Jumat, 14 Juli 2017

CATATAN PERJALANAN (HATI) GUNUNG KERINCI & DANAU GUNUNG TUJUH




Gunung Kerinci (3805 mdpl) merupakan gunung berapi tertinggi di Indonesia. Gunung yang tergolong stratovulkano ini berada di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Salah satu jalur pendakian yang familiar adalah melalui desa Kersik Tuo, Kecamatan Kayuaro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. 
Hamparan teh berujung pada gagahnya Gunung Kerinci dari depan basecamp

Planning pendakian Kerinci yang dilaksanakan tanggal 28 Juni s.d. 4 Juli 2017 sempat terkendala ACC dari Kanjeng Mami. Beliau tidak mengijinkan saat aku menyampaikan maksud akan mendaki Kerinci bersama beberapa rekan pendakian Rinjani April kemarin. Setelah mencoba beberapa kali dan gagal mendapat ACC akhirnya pada H-5 keberangkatanku, beliau dengan terpaksa membiarkanku pergi. Ibu, maafkan anakmu....hehe. Jangan salah, pendakian Kerinci kali ini harus dibayar mahal. Mahal dalam segi budget, pengalaman dan hikmah yang diperoleh selama dalam perjalanan bersama rekan setim.

Tanggal 27 Juni 2017 yaitu Selasa malam jam 9 keretaku melaju menuju stasiun Gambir. Aku berangkat dengan kereta eksekutif dari stasiun Tugu, Jogjakarta. Kenapa memakai kereta eksekutif yang notabene harganya selangit? Agar bisa berangkat malem dari Jogja dan tiba di Jakarta Subuh karena pesawatku terbang jam 07.55 WIB dari Soeta. Jam 05.00 WIB bus Damri jurusan Gambir-Bandara (tiket 40rb rupiah) melaju lepas tanpa hambatan dan aku tiba di terminal 1B jam 05.45 WIB. Setelah check-in dan menghubungi teman untuk bertemu, akhirnya pesawat lepas landas tepat waktu.

Jangan lupa selfie

Sekitar jam 09.00 WIB kami bertiga (Aku, Kus dan Agung) tiba di Bandara Sultan Thaha Jambi. Sambi menunggu teman yang lain (Ardi dan Bang Dimas) kami menunggu di bandara dan beristirahat. Jam 12.20 WIB kami start menuju BC bangLevi di Kerinci.

Mobil yang menjemput kami untuk menuju Kersik Tuo

Perjalanan menuju BC yang biasanya ditempuh dalam 12 jam ternyata meleset jauh melampaui estimasi kami. Kami beberapa kali berhenti dalam perjalanan, yaitu mengurus tiket travel, menjemput 2 penumpang lain (bukan pendaki), menjemput Bang Irul di Pamenang, istirahat makan sore serta makan malam, serta menurunkan pesanan barang di Sungai Penuh. Akhirnya kami tiba dengan selamat di BC jam 02.30 WIB dengan kondisi badan yang sangat letih. Saat kami tiba di basecamp, rekan setim yang sudah sampai duluan dengan penerbangan paling pagi dari Jakarta telah tertidur pulas. Aku tak menemukan lapak kosong untuk menyandarkan badan yang sudah pegal. Akhirnya aku bisa istirahat di sofa di ujung ruangan tersebut.


Kamis, 29 Juni 2017
Jam 05.00 WIB kami packing ulang sambi melengkapi logistik yang belum tersedia. Jam 09.00 WIB kami diantar menuju pintu rimba. 

candid saat menunggu mobil arah pintu rimba datang

Usai berdoa, Jam 10.00 WIB kami mulai start dari pintu rimba. Anggota fullteam kami yaitu Kus, Bang Ino, bang Zul, Bang Nival, Bang Hadian, Tika, Uya, Fikri, Agung, Ardi, Uut, dan Bang Dimas.
Perjalanan dari pintu rimba menuju pos 1, pos 2, dan pos 3 didominasi oleh akar dengan tingkat kemiringan yang masih wajar untuk kategori Atap Sumatera. Berikut catatan waktu kedatangan di tiap pos:
Kami tiba di pos 1 (Bangku Panjang) jam 10.12 WIB
Pos 2 (Batu Lumut) jam 11.00 WIB
Pos 3 (Pondok Panorama) Jam 12.20 WIB

Pos 1


Pos 3


Waktu di atas khusus catatan waktuku saja. Banyak temanku yang sudah sampai duluan karena mereka adalah si dengkul balap. Ada yang jalan di belakangku juga karena memang mereka adalah sweeper yang tugasnya mengontrol jangan sampai ada anggota tim yang tertinggal di belakang. FYI, di pos 2 terdapat sumber air yang terletak di sebelah kiri dari arah pintu rimba. Hari pertama ngetrek ternyata aku sedang haid. Jadilah perjalanan kali ini terasa melelahkan karena harus menahan nyeri di area perut saat di trek. Tanjakan mulai terasa berat saat meninggalkan pos 3 untuk menuju shelter 1.
trek yang mengharuskan dengkul ketemu dagu

Camp pertama kami di Shelter 1. Aku tiba di shelter 1 jam 14.30 WIB. Setelah para lelaki bekerja sama mendirikan 4 buah tenda dan memasang flysheet, kami para wanita memasak menu makan saat itu yaitu nasi+sop. Sebelum menu utama siap, kami menggoreng empek-empek yang telah dibawa dari Palembang oleh rekan kami, Ardi. Makan empek-empek beserta cuko di camp 1 menjadi moment yang luar biasa. Luar biasa karena kami bisa berbagi empek-empek kepada tetangga sebelah. Menjelang maghrib kami selesai memasak dan kemudian turun hujan. Kami segera membereskan peralatan masak, ganti baju, makan, kemudian tidur.


Jumat, 30 Juni 2017
Pagi segera setelah bangun kami menyiapkan sarapan. Selesai sarapan kami mulai beberes packing dan segera lanjut  menuju shelter 1. Perjalanan diawali dengan tanah yang becek dan berlumpur akibat hujan semalam. Tanah yang licin membuat kami harus hati-hati dalam melangkah dan mengambil pijakan untuk naik. Seringkali kami menemui lorong sempit bekas jalan air yang harus kami lewati. Hal ini bisa dijadikan tolok ukur apakah kami cukup langsing untuk melewati dan berjalan di celah yang cukup sempit tersebut. Kalau aku sudah pasti celana akan banyak bergesekan dengan tanah saat melewati lorong dan kotor pun tidak terhindarkan lagi. Dengan bantuan tangan yang berpegangan pada pohon, perjalanan menuju shelter 3 dapat berjalan dengan lancar walau kadang terpeleset. Berikut catatan waktu tempuh menuju shelter 2 dan 3:
Jam 09.30 – 12.00 shelter 1 ke shelter 2
Jam 13.00  –  14.30  shelter 2 ke shelter 3


Pemandangan di area shelter 2


trek menuju shelter 3


trek menuju shelter 3



Camp kami di shelter 3. Shelter 3 merupakan batas vegetasi sebelum area lintasan menuju puncak Kerinci. Di dekat shelter 3 juga terdapat sumber air. Kami mulai memasak setelah beberapa teman mengambil air.

camp area di shelter 3

Menu makan: nasi, pecel, bakwan.
Jam 21.00 WIB aku sudah bersiap tidur di tenda. Entah kenapa sulit sekali untuk memejamkan mata. Selang beberapa lama, saat aku masih terjaga, aku mendengar suara orang memanggil namaku.
“Mbak Uut,,, udah tidur belum?”
“Belum Kus... Kenapa?” jawabku setelah mengenali bahwa suara tersebut milik Kuswandi
“Gak papa, mbak. Cuma tanya aja”
#Gubrak! Batinku.
Lalu aku berusaha tidur kembali.
Sekitar jam 2 pagi aku kembali mendengar suara Kus yang berada tepat di depan tendaku.
“Mbak Uut...ke sini deh..Ada dedek di sini.”
Aku langsung bangun, melepas SB dan dengan panik keluar dan menuju tenda Kus. Uya yang tidur di sampingku juga ikut terbangun. Pelan-pelan aku dekati tenda Kus dan kupanggil namanya. Tapi dia tidak menyahut. Akhirnya aku masuk ke tenda Kus dan kutemukan dia tengah tertidur pulas tanpa mengenakan SB. Aku bangunkan Kus. Dia terbangun dengan kaget melihatku berada di sana.
“Mbak Uut, kog di sini?’
“Lhah,,kamu manggil aku, Kus,, Katamu dedek ada di sini.”
“Ah, masa mbak? Saya gak manggil mbak kog. Saya kan tidur.” Sanggahnya.
Karena malas berdebat, akhirnya aku segera kembali ke tendaku. Tak lupa kutunggu dia memakai SB lebih dulu. “Tidur ya, Kus...” perintahku.
Di tenda aku masih membahas hal tersebut dengan Uya. Kalau kata teman terusil---- itu Kus hanya mengigau dan kemungkinan besok dia akan ingat apa yang terjadi.


Sabtu, 1 Juli 2017
Bangun jam 04.00 WIB, persiapan summit. Kami summit attack mulai jam 04.30 WIB dan kami semua tidak sempat sarapan sebelum summit. Aku yang tidak memakai geither tetap melaju dengan aman di trek pasir dan bebatuan. Tentu saja di dalam sepatu banyak kerikil yang masuk terutama saat turun dari puncak. Summit attack kali ini aku lupa membawa sarung tangan. Benar-benar lupa karena saat packing aku tidak fokus. Dingin memang, tetapi harus terus berjalan agar hawa dingin tidak berasa. Puncak selalu terasa lebih jauh, lebih tinggi dan lebih sulit dari yang terlihat. Badan yang terbebas dari beban carriel membuat langkahku terasa bersemangat. Walaupun perut keroncongan, asal tekad sudah dalam genggaman, maka percayalah semesta akan bekerja membantumu mencapai tanah tertinggi sebagai tujuan dari kebanyakan orang yang mendaki gunung. Setelah 1,5 jam akhirnya aku menemukan tempat yang cukup datar. Di sana terlihat beberapa memorial pendaki salah satunya yaitu tugu yudha. Sebaiknya kita ikut mendoakan mereka, jangan abai dan lewat begitu saja. Sejatinya kita yang masih hidup di dunia pun pasti akan bertemu dengan kematian, entah kapan.
Tugu Yudha, jangan lupa bacakan doa untuk saudara kita
Di sebelah kanan tampak Danau Gunung Tujuh mempercantik pemandangan Ciptaan-Nya.

Danau Gunung Tujuh tampak nyata di landscape

Dari Tugu Yudha, puncak Indrapura sudah terlihat jelas. Trek berubah menjadi batu-batu padat dan pasir. Kalau dibandingkan dengan summit attack Semeru ataupun Rinjani, summit Kerinci masih menang dari segi durasi waktu yang singkat jika start dari shelter 3. Alhamdulillah, benar-benar summit ini lebih santai daripada perjalanan dari pos 1 hingga ke shelter 3. Terasa bedanya jika kita mengandalkan hati dan menanggalkan ego. Aku sampai di puncak Indrapura jam 06.30 WIB. Capek dan semua keluh kesah lenyap saat tiba di puncak. 

The Highest Volcano Mountain In Indonesia


Terima kasih atas semuanya, Puncak Indrapura

Terima kasih ya Alloh,,karena cuaca cerah dan sambutan yang luar biasa dari semesta untuk kami semua yang tengah bertamu di Kerinci.
Setelah puas menikmati dan mengabadikan moment di puncak, 

thx all,,, kalian luar biasa
Otw turun menuju camp area

kami bergegas turun dari puncak jam 07.30 dan tiba di camp shelter 3 jam 09.00 WIB. Seluruh anggota tim berhasil summit dengan catatan waktu yang berbeda tergantung kondisi masing-masing.

Nikmatilah jeda, karena akan ada hal yang terlewat dalam ketergesaan

Menu pemulihan sehabis summit yaitu nasi goreng dan juga mie instant.
Turun dari shelter 3 menuju pintu rimba yaitu jam 12.00 – 18.30 WIB (khusus catatan waktuku bersama tim sweeper). Dengkul lunglai sejak mendekati shelter 1. Alhasil dari shelter 1 menuju pintu rimba aku berjalan sangat pelan. Untunglah beberapa teman masih setia menemani dan sabar menghadapi gaya keongku.Hahahaha,,, maafkeun,,,
Tiba di BC kami langsung bersih diri makan dan istirahat karena besok kami masih lanjut ke Danau Gunung Tujuh.


Minggu, 2 Juli 2017
Berangkat menuju Danau Gunung Tujuh sekitar jam 10 dari BC bang Levi.
Start ngetrek jam 12.00 – 14.30 WIB (khusus catatan waktuku bersama tim sweeper).



Perjalanan menuju puncak gunung tujuh didominasi oleh akar pepohonan. Tidak ada bonus, menanjak terus. Dengkulku yang sudah lunglai tak bisa dipaksa berjalan dengan cepat seperti rekan yang lainnya. Walau punggung tanpa beban, tetap saja jalanku seperti keong. Kami diperingatkan pendaki yang otw turun bahwa di depan ada sarang tawon, sebaiknya kami ambil jalan ke kanan, jangan lurus, takutnya tawon tersebut membahayakan rombongan. Kami pun menuruti mereka dan selamat sampai di puncak gunung tujuh. Dari puncak kami tinggal turun sekitar 15 menit untuk mencapai Danau Gunung Tujuh. Baru beberapa langkah turun, hujan tiba-tiba datang. Hujan deras dan cukup lama membuat ku berhenti bersama 2 rekan yang kala itu bersamaku. Akhirnya aku, bang Zul dan Bang Hadian berteduh di sebuah pohon yang menyerupai goa. Kami bertiga berdesakan duduk dan memastikan diri tidak kena cipratan air hujan yang jatuh dari langit. Kami menggunakan matras yang ada di daypack yang dipake bang Zul. Sebuah matras dilingkarkan di sekeliling kami bertiga, agar kami tidak kedinginan. Kami berteduh cukup lama sampai berpapasan dengan banyak pendaki yang memilih tetap berjalan di tengah guyuran hujan. Bang Hadian memutuskan untuk lanjut turun, sedangkan aku dan bang Zul masih bertahan di sana. Tak berapa lama kami bertemu dengan Pakde, pemilik BC yang kami tempati. Setelah berbincang sejenak dan hujan agak reda, aku dan bang Zul turun untuk menyusul rekan yang sudah duluan. Mendekati danau, kami dijemput oleh Bang Ino. Lantas kami diberitahu kalo isi daypack kami adalah flysheet. Kami kaget karena memang tidak membuka daypack dari tadi, takutnya ada barang milik pribadi. Akhirnya Aku bersama rekan sejumlah 6 orang naik sampan untuk menuju area camp.


Awesome banget MahaKarya Tuhan

Camp area di danau Gunung Tujuh

Menu malem : nasi liwet, tumis kangkung, sosis, sambel tomat, kerupuk, seblak campur gagang kangkung, donat



Masak ditemani hujan




Donat ala Kuswandi


Senin, 3 Juli 2017
Menu pagi: nasi liwet, sayur asem, bihun campur kacang panjang, sambel bawang, martabak.
Sambil menunggu masakan matang, beberapa teman berenang di danau.



Chef gunung sedang memasak nasi liwet


Saat memasak bihun kecap, gas hi-cook habis total dan kami tak punya stok lagi. Untunglah bihun sudah agak matang. Walaupun bihun tak matang sempurna, teman-teman tetap makan dengan nikmat segala menu yang tersedia.
Jam 11.00 kami selesai makan dan beberes untuk bersiap kembali pulang. Saat kami tengah beberes, sampan yang menjemput kami sudah tiba. Untungnya bapak berdua dengan sabar menunggu kami hingga selesai packing.

Ada banyak kisah yang bisa dikenang bersama

HBD uya,,, wish u all the best...

Sampan Danau Gunung Tujuh yang setia menunggu kami beres packing



Jam 13.30 rombongan pertama mulai naik sampan. Rombongan kedua naik sampan jam 13.45 WIB.
Jam 14.00 kami mulai berjalan dari pinggir danau untuk menuju puncak Gunung Tujuh untuk selanjutnya turun menuju gerbang pendakian.
Jam 16.00 WIB aku dan orang-orang yang masih sabar menemaniku berjalan sampai di lokasi penjemputan. Jam 16.30 WIB mobil jemputan datang dan kami semua pulang menuju BC bang levi. Kami tiba di BC Jam 17.30 WIB dan langsung melaksanakan ritual: sebagian bersih bersih, makan dan beristirahat.

Squad kembali ke BC dengan sehat


Sebelum pulang kami mengecek kembali seluruh barang baik pribadi mapun kelompok, jangan sampai ada yang tertinggal di basecamp. Jam 20.00 WIB kami meninggalkan BC dan menuju Jambi Kota. Jam 02.00 WIB kami mampir ke rumah bang irul yang terletak di daerah Pamenang. Dari jalan lintas masuk gang kira-kira 800 m dan kami sampai di depan rumah bang Irul. Kami serombongan masuk dan istirahat di depan TV. Telah tersedia 2 buah kasur yang digelar untuk menyambut kami. Aku tertidur sampai jam 05.00 WIB. Terima kasih untuk bang Irul atas jamuannya. Alhamdulillah bisa rebahan di kasur walau hanya 3 jam saja.


Selasa, 4 Juli 2017
Dari Pamenang kami lanjut menuju Jambi kota. Jam 08.00 WIB kami tiba di loket travel. Kami sarapan di sana. Driver pun istirahat sejenak.
Jam 11.00 WIB kami sudah tiba di bandara Sultan Thaha. Sambil menunggu waktu check-in sekitar jam 17.00 WIB kami sibuk bersih diri, makan siang dan jalan-jalan di sekitar area Bandara.
Pesawat kami sempat delay selama sejam dan akhirnya kami semua tiba dengan selamat di bandara Soeta  jam 20.30 WIB
Aku naik Damri jam 21.30 WIB dan sampai di Stasiun Gambir jam 22.30 WIB. Sedangkan keretaku berangkat jam 23.30 WIB. Waktu yang masih longgar sebelum boarding aku manfaatkan untuk membeli jajan sebagai bekal di dalam kereta. Aku boading bersama sepasang suami istri dari Jakarta yang baru akan mudik ke Bantul. Beliau berdua sangat mengapresiasi ceritaku yang baru turun gunung. Untunglah, obrolan kami selama satu jam tidak berujung pada pertanyaan horror. Hahahaha.... Obrolan kami harus berakhir ketika kereta kami telah tiba. Beliau dan aku tidak berjodoh untuk bisa satu gerbong.

Hikmah yang dapat dipetik dalam perjalanan ini yaitu:
  1. Pemilihan waktu pendakian saat lebaran bukanlah hal yang baik menurutku. Kenapa? Saat lebaran yang seharusnya dipakai kumpul dengan keluarga malah dipakai untuk kegiatan pribadi. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan kehendak orang tua yang ingin anak-anaknya berkumpul saat lebaran sampai dengan H+7. Buatku ini sangat mungkin berpengaruh terhadap kinerja dengkul saat di alam. Ketika orang tua memberikan izin dengan setengah hati maka aku merasakan betapa alam juga enggan bekerja sama dengan langkah kakiku.
  2. Biaya transportasi cenderung meningkat pada "session lebaran"
  3. Hati-hati jika melakukan pendakian bersama “cewek” saat datang bulan. Sekadar info saja bahwa “cewek” akan sangat sensitif dan emosinya sangat labil jika sedang PMS dan jangan malah diajak becanda selama di trek. Untunglah hanya ngambek,, tidak lebih dari itu. Wkwkwkwk,, ya kali ngambeknya suruh ditahan, di trek jangan ngambek?! #ahsudahlah....


Special thanks to:

  • Alloh SWT pemilik alam semesta
  • Orang tua, sanak saudara dan sahabat yang selalu mendoakan
  • Kus, Bang Ino, bang Zul, Bang Nival, Bang Hadian, Tika, Uya, Fikri, Agung, Ardi, dan Bang Dimas atas pengorbanan, kerja sama, toleransi dan canda-tawa selama seminggu di tanah Sumatra
  • Para dengkul racing yang tetap sabar di belakang, mengawal 1 keong...
  • Para Chef gunung yang berpengalaman atas pelajaran memasak saat di alam
  • Para pengisi waktu luang dengan curhatannya sehingga aku gak penasaran lagi. Tenang, aku akan pura-pura polos saja. wkwkwkwkwk
  • Bang irul,,,, atas persinggahan di rumah Pamenang dan turut serta sampai di pintu rimba.

Love you all,,,semoga bisa barengan lagi di lain kesempatan... *_^


Sabtu, 13 Mei 2017

CATATAN PERJALANAN GUNUNG SALAK 2211 MDPL


Pada bulan september tanggal 10-11 tahun 2016,  aku dan beberapa teman mendaki gunung Salak. Gunung salak berada di Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi. Plan kami yaitu start melalui jalur Cimelati dan ngecamp di puncak Salak I yaitu Puncak Manik dengan ketinggian 2211 meter. Menurut teman yang lebih berpengalaman, jalur Cimelati merupakan jalur paling cepat untuk menuju Puncak Salak I dibanding jalur lain yaitu via Cidahu, via Pasir Reungit maupun via Girijaya.

Aku berangkat dari kos di Bojongkulur naik angkot tanggal 9 September 2017 jam 19.00 WIB menuju meeting point di Tol Jagorawi. Karena sudah terlalu malam, bus yang harusnya kita tumpangi hingga ke Cicurug barusan berangkat dan bus selanjutnya akan beroperasi kembali keesokan harinya. Kita kemaleman, maklum saja, beres kerja jam 17.00 WIB. Akhirnya, Kita pun naik elf sampai ke Ciawi dan oper naik bus sampai ke Cicurug. Di cicurug, kita istirahat dan bermalam di rumahnya Vian. Keesokan paginya kami menyewa pick up dan diantar hingga ke Cimelati. Start dari rumah Vian jam 05.30 dan kami masih harus mampir ke pasar untuk membeli perbekalan sebelum pendakian.

Squad pendakian Salak


Kami berangkat dari Pos Penjagaan dengan membayar seikhlasnya yaitu Rp 50.000 untuk rombongan kami. Tim kami terdiri atas 13 personil yaitu Vian sebagai guide membawa 3 teman asli Cimelati, serta Bang Ponco,Malih, Bang Deri, Arum, Irma, Athenk, Eki, Kus dan Uut yang notabene bertemu saat pendakian Semeru sebelumnya. Berangkat menuju pos 1 jam 08.00 dan sampai di pos 1 jam 08.52 WIB. 

Awal perjalanan menuju pos 1 kami melewati perkebunan dan jalan setapak yang tidak terlalu terjal. Dari pos 1 menuju pos 2 mulailah jalur yang terdapat banyak akar pohon yang licin. Gunung salak dengan vegetasi hutan yang rapat membuat suasana hening. Di tengah keheningan kita bisa mendengar suara kicauan burung di tengah hutan.

Selagi menikmati kondisi alam sekitar, seorang teman nyeletuk “Pos 2 break ya, sarapan dulu”. “Iya” sahutku. Lalu aku berkata pada Vian, “Pos 2 masih jauh?”. “Dekat, kog” jawab Vian. “Mbak,,katanya pos 2 deket..mana? Kog gak nyampe-nyampe?”. “Itu di depan, dikit lagi katanya” kataku berusaha menghibur. 

Sampai di pos 2 langsung cekrek...

Tak dapat dipungkiri kalau kita ngetrek padahal perut yang kosong udah berteriak minta diisi, maka jalanpun menjadi tidak fokus. Bawaan pikiran cuma ‘Uhh, kena PHP nih,’. Beberapa menit kemudian Vian berteriak “Buruan, Pos 2 nih”. Lantas aku ulangi teriakan itu “Noh, depan Pos 2 beneran”. Kami sampai di pos 2 jam 09.39 WIB. Segera kami melahap nasi uduk yang dibeli dari pasar dengan lauk seadanya. Sarapan sudah dilakukan, energi terisi lalu kami lanjut menuju pos 3 dengan penuh semangat. Kami sampai di pos 3 jam 09.59 WIB.

Di pos 3 juga taken a pict


Pos 3 merupakan satu-satunya pos yang terdapat sumber air. Kami istirahat cukup lama saat di pos 3. Sambil mengisi ulang botol air mineral kami menikmati bekal roti yang dibawa. Pos 3 juga terdapat lapak untuk mendirikan tenda karena tanah lumayan datar dan lapang dibanding pos pos selanjutnya sebelum sampai ke puncak. Mulai dari sini kami berjalan terpisah. Rombongan kawan Vian, tiga orang sudah jalan duluan seakan trek terjal setelah pos 3 bukanlah hal yang sulit. Menurutku mulai terjal yaitu dari pos 3 hingga ke puncak. Ayunan kakiku harus diimbangi dengan tangan yang berpegang erat pada akar pohon. Pokoknya seringkali dengkul bertemu dengan dagu apalagi dengan panjang kaki yang pas-pasan. Alhamdulillah masih ada pohon maupun akar sebagai back upnya. Rombongan paling belakang yaitu para porter, ada yang membawa tenda, ada yang membawa logistik. Jangan salah, di antara mereka ada yang kerilnya berisi 1 buah semangka bulat, utuh. Sedangkan rombongan cewek yaitu Aku, Arum dan Irma konstan berada di tengah.

Kami tiba di pos 4 pada jam 12.27 WIB. Jalur dari pos 4 menuju pos 5 masih didominasi tanah, serta akar pepohonan rapat yang licin. Langkah kaki orang yang sering “main” ke gunung salak dengan langkah kaki pendaki pemula akan tampak bedanya. Langkah kaki mereka mantap dan cepat serta sangat seimbang, sedangkan langkahku terkesan bimbang memilih pijakan serta sering oleng apalagi saat perjalanan turun esok hari. Vian hanya beralaskan sandal jepit sedangkan kami memakai sepatu gunung *_*

Sampailah kami di pos 5 jam 13.31 WIB. Berhenti di pos untuk sejenak mengistirahatkan dengkul dan mengatur nafas. Setelah cukup istirahat kami lanjut dan sampai di pos 6 jam 14.01 WIB.
Baru berjalan beberapa langkah dari pos 6 tiba-tiba hujan rintik-rintik yang lama kelamaan menjadi hujan deras. Dan kami harus mengenakan mantel untuk mengurangi resiko basah kuyup. Kami berjalan di tengah guyuran hujan, dengan trek yang semakin parah karena tanahnya semakin berlumpur dan licin.

Hingga kami tiba di puncak hujan masih menyisakan  bekas genangan air di camping ground. Sampai di Puncak Manik Salak 1 dengan ketinggian 2211 mdpl yaitu jam 15.00 WIB.
Banyak pacet berukuran raksasa berwarna hitam yang kami temukan sedang berkeliaran di sekitar camping ground di Puncak manik. Kami menyebutnya pacet gajah..
Saat tiba di puncak kami langsung mengecek apakah ada anggota badan yang ditempel oleh pacet. Dan ternyata saya dan Malih di tempel pacet di bagian tangan. Segera saja pacet yang tengah asyik mengisap darah disundut dengan rokok hingga terlepas dari tangan kami.
Sebagian dari kami mulai mendirikan 4 tenda. Keempat tenda kami merada tepat di samping Plang Puncak Manik. Sementara yang lain mendirikan tenda, ada juga yang sengaja menjemur pakaian dan mantel yang basah terkena hujan di track. Sore itu kami memasak seblak, salah satu makanan favoritku di Bogor. Yang memasak adalah Chef Arum dan Irma. Petang hari kami melahap masakan yang telah siap di dalam tenda. Setelah makan, beberes dan ganti baju, kami para cewek segera masuk ke tenda dan langsung tidur karena kelelahan diguncang track salak.




Suasana pagi di sekitar tenda






Sarapan sudah siap.


Sarapan bersama terasa lebih nikmat

Keesokan harinya kami memasak nasi, bakwan dan sop sebagai menu sarapan. Ada juga minuman segar campuran nata de coco dengan potongan semangka yang dibawa dari bawah. Ketika sarapan hampir siap, aku teringat sisa nasi uduk yang kami makan di pos 2. Lantas, aku bertanya, “Di mana nasi uduknya?Biar dihangatkan.” Lantas tak ada yang merespon. Lalu ku dekati mereka yang kemarin jalan paling belakang. Barulah mereka mengaku bahwa nasi uduknya sudah habis kemarin siang karena mereka sangat kelaparan di track. Aku geli sendiri menyaksikan mereka yang saling menuduh siapa biang kerok yang memprovokasi agar nasi tersebut dimakan. Cerita inilah yang akan selalu terkenang dan membekas di hati. Selesai makan, kami berfoto ria di sekitar tenda dan plang puncak.

Foto bareng di Puncak Manik




Puncak sudah sepi saat kami hendak otw turun



Naik berat, turun lebih berat..hihihi...

Jam 10.00 WIB kami mulai turun dari puncak Salak I. Tiba di pos 3 kami istirahat agak lama. Kami juga memberikan surprise ke Ateng yang berulang tahun ke-17 hari itu. Duh, masih muda belia yak... Kus memang sudah menyiapkan kue untuk Ateng dan sengaja akan diberikan di gunung Salak. Mulailah Ateng dikerjain oleh para seniornya kala itu. Dia diminta meniup api dari trangia sebagai lambang tiup lilin sebelum potong kue. Kasihan sekali Ateng, meski sudah berulangkali mencoba meniup sekuat tenaga, tetap saja api tersebut tak kunjung padam. Akhirnya, walau gagal meniup api, acara potong kue berjalan dengan penuh haru. Semua menikmati kue rasa durian bersama-sama, kecuali Aku. Masalahnya aku gak suka durian, jadi kue/cake rasa durian tidak kumakan. Potongan kue yang kecil sudah bisa dicicipi masing-masing. Karena masih lapar, akhirnya kami membongkar logistik yang tersisa dan mulai memasak mie serta membuat kopi dan susu. 

Ateng dan bang Ponco


Ateng meniup lilin ULTAHnya

Kelaparan di pos 3




Perut memang susah diajak kompromi saat sedang lapar. Seperti pepatah “Logika tak akan berjalan tanpa logistik”. Setelah perut kenyang dan dengkul lumayan terkondisikan kami segera beberes dan lanjut turun hingga pos penjagaan. Jangan heran kalau dengkulku jadi tremor. Dari puncak hingga pos 2 semua tumpuan beban dan berat badan jatuh di kaki. Trek yang licin membuatku melangkah sangat pelan dan hati-hati. Akhirnya kami sampai di pos penjagaan jam 16.00 WIB. Sambi menunggu pick up menjemput kami lapor ke pos penjagaan bahwa kami semua turun dengan anggota lengkap dan semuanya sehat.
Alhamdulillah misi ke salak sukses. Aku, bang Deri, Kus dan Ekky turun di pertigaan Cimelati jam 17.30 WIB. Kami menunggu bis ke arah Jagorawi lumayan lama. Habis Isya, barulah kami putuskan naik angkot sampai Ciawi lalu sambung Bus dan turun di tol Jagorawi.

Pose tim 3 sebelum pulang *_^

CATATAN PERJALANAN GUNUNG CIREMAI 3078 MDPL


Pada akhir bulan Desember tahun 2016 aku sudah planning akan mendaki salah satu gunung di daerah Jatim. Karena banyak faktor dan lain hal akhirnya planning berubah dan realitanya aku mendaki gunung Ciremai. Gunung Ciremai yang masuk di kabupaten Cirebon, Kuningan, serta Majalengka ini merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Aku memutuskan ikut pendakian Ciremai sktr H-4. Begitu dapat ACC dari kanjeng mami, aku langsung mencari tiket kereta tujuan Cirebon. Tanggal 30 Desember tepatnya hari Jumat, aku tiba di stasiun Cirebon Prujakan jam 20.00 WIB.

Sebagai orang yang hanya ngikut, aku tidak disibukkan dengan urusan management pendakian ini. Haha, biasanya juga gak ngurusin padahal. Pendakian Ciremai kami melalui jalur palutungan yang bermedan lebih landai tapi lebih jauh. Berhubung temen-teman berangkat dari area Tangerang, Jakarta, Sukabumi, serta Bogor sedangkan aku berangkat dari Jogja, maka kami sepakat ketemu di basecamp. Dari stasiun sampai BC Palutungan aku diantar oleh seorang anggota grup PJB bernama Bang Riki yang notabene kami belum pernah bertemu. Untunglah, Bang Riki nan baik hati-yang memang sering mendaki Ciremai bersedia direpotkan olehku. Perjalanan dari Stasiun sampai basecamp tak semulus yang dibayangkan. Memang, jalan sudah di aspal dan dominan mulus (beberapa titik jalan penuh lubang), tapi perjalanan yang cukup panjang dan medan yang berat menyebabkan beberapa kali mesin motor yang kami kendarai menjadi macet. Mungkin karena mesin motor terlalu panas, beban penumpang terlalu berat serta medan yang menanjak. Sempat juga bang Riki lupa isi bensin, sehingga harus balik untuk mencari pom bensin. Kami sampai di BC palutungan sudah lewat tengah malam, sekitar jam 00.30 WIB. Saat sudah dekat ke BC jalan yang kami lalui sungguh sepi dan mencekam. Dalam hati aku slalu berdoa agar kami segera sampai dengan selamat di BC. Aku langsung tertidur lelap di BC karena badan sudah sangat letih.

Jam 04.00 WIB aku dibangunkan oleh bang Riki. Katanya, teman-teman rombongan dari barat sudah sampai. Setelah aku menyapa mereka semua, kami segera sholat Subuh dan sarapan. Rombongan kali ini terdiri dari 14 orang yakni Bang Ino, Adul, Ateng, Fahmi, Begenk, Uya, Arin, Aul, Irma, Kus, Ekky, Bang Deri, Bang Katock dan aku.

Squad pendakian plus bang Riki
Kami start mendaki dari BC jam 06.30 WIB tanggal 31 Desember 2016. Untuk menuju pos 1 kami melewati rumah-rumah penduduk, ladang, dan menemukan pos bayangan yang merupakan gerbang masuk ke area hutan. Jarak dari BC ke pos 1 cukup jauh.
Pos 1 Cigowong 1100 mdpl. Pos ini merupakan pos yang terdapat sumber air serta kamar mandi.
Pos 2 Kuta 1575 mdpl. Pos 2 ini kami jadikan tempat istirahat. Saat itu terdapat tenda pendaki lain.

Pos 2 Kuta


Pos 3 Pangguyangan Badak 1800 mdpl
Pos 4 Arban 2050 mdpl. Kami isirahat cukup lama di pos ini. Sembari menunggu rombongan di belakang kami makan mie instant dan juga ngemil snack yang ada di keril.

Di pos Arban menikmati jeda dan ngemiL

Setelah semua berkoordinasi maka dipecahlah kami dalam 3 kloter. Kloter pertama yaitu Adul, Atenk, Begenk berjalan duluan untuk mencari lapak tenda di Goa walet. Kloter kedua dan ketiga yang agak semrawut jalannya yaitu Ekky, Uya, Fahmi, Arin, Aul, Uut, Bang Deri, Bang Katock, Kus dan Bang Ino sebagai sweeper. Kenapa semrawut? Karena yah jalannya suka-suka, mau pelan boleh, mau nambah kecepatan juga bisa. Hihihi.

Pos 5 Tanjakan Asoy 2200 mdpl. Kami tunaikan sholat di pos 5. Saat itu jam 12.30 WIB. Beres sholat kami melanjutkan perjalanan menuju pos 6. Medan menuju pos 6 inilah yang menguji dengkul. Tanjakan lumayan terjal mengharuskan dengkul bertemu dengan dagu.

Pos 6 Pasanggrahan 2450 mdpl. Mulai dari pos 6 menuju pos 8 kami semakin terpencar. Kloter pertama sudah semakin di depan. Lalu ekky menyusul karena dia juga membawa tenda. Artinya dia juga harus mencari lapak di Goa walet. Malam tahun baru banyak pendaki yang ngecamp di Goa walet, jadi kami harus mengejar waktu jangan sampai tak kebagian lapak untuk mendirikan tenda. Saat Ekky sudah tak terlihat batang hidungnya, jadilah aku berjalan beriringan dengan Uya dan Fahmi. Medan berubah menjadi bebatuan. Aku yang sudah kelelahan menggendong keril, lama lama berada paling belakang di antara Uya dan Fahmi. Emang awalnya paling depan?haha, gak juga sih. Lha wong jalan kayak keong. Jika fisikmu tak cukup siap, maka jadilah seperti aku dalam pendakian kali ini, hanya mendapatkan rasa lelah dan pegal yang luarbiasa sepulang dari mendaki. (Jangan ditiru, ini tak baik). 

Tak berapa lama setelah melalui pos 7 (Sanghyangropoh dengan ketinggian 2650 mdpl) lalu turun hujan. Kami segera memakai jas hujan dan melanjutkan perjalanan. Ternyata hujan semakin deras dan disertai petir yang menyambar tepat di atas kami. Karena medan terbuka dan hanya sedikit dijumpai pohon, kami berjalan dengan hati-hati dan komat kamit berdoa agar tak tersambar petir. Setiap bertanya pada orang yang turun kami mendapat jawaban yang berbeda. “Goa walet masih jauh?”
“Bentar lagi, 15 menit”
“Masih jauh, 1,5 jam”
“Kira-kira 45menit lagi”
Wah, kami merasa mendapat PHP maksimal saat itu. Ekky di depan sudah jauh. Saat kami panggil Ekky dengan kode “srupuuttt!!” tak ada sahutan. Sedangkan rombongan belakang tidak kelihatan sama sekali. Akhirnya kami sampai di pos 8 jam 17.00 WIB. Itupun kami ragu, karena ada pertigaan, yang satu turun mengarah ke goa walet dan sebelah kiri, naik ke arah puncak. Akhirnya setelah berdiskusi aku uya dan fahmi memutuskan arah kanan, turun menuju goa walet. Sampai di goa walet kami bisa menemukan Ekky yang sedang mencari kloter 1 yang ditugaskan mencari lapak di sana. Ekky sudah berteriak teriak sedari tadi memanggil Ateng dan Adul tapi tak ada jawaban. Di tengah guyuran hujan kami membantu mencari kloter 1 dengan berusaha berteriak memanggil nama mereka di antara banyak tenda yang sudah berjajar memenuhi goa walet. Sampai jam 18.00 tak ada hasil, akhirnya kami berempat mendirikan tenda di dalam goa walet. Hanya itu lahan yang kosong. Lagipula kami sudah kedinginan dan kelaparan pula. Wkwkwk. Sembari mendirikan tenda kami berusaha menerka ada di mana Ateng dan Adul. Oh, mungkin ketiduran, pikir kami. Saat tenda sudah berdiri ala kadarnya karena tenda tepat di atas batu, kami bergantian masuk ke tenda untuk ganti baju. Beberapa menit kemudian Adul muncul di depan tenda kami sekitar jam 19.00 WIB. Adul lalu menjelaskan kepada kami, bahwa dia mencari lapak tenda di sebelah atas. Jadi, dia mendirikan tenda di jalur naik arah ke puncak. Katanya, di goa walet saat dia datang, sudah penuh. Padahal adul sampai di goa walet jam 15.00. Sangat cepat bukan?! Aku lantas meminta makanan ke adul. 
“Emang gak ada yang bawa logistik?” kami serentak menggelengkan kepala. 
Adul bergegas naik dan kembali ke tenda kami bersama Ateng dengan membawa kompor, nesting, gas dan kopi/teh. Adul lantas mencermati tenda kami dan mengajak Ekky untuk memperbaiki posisi tenda. Setelah selesai mengurus tenda dan memasang tampungan air di mulut goa, Kami berenam lalu masuk tenda dan membuat teh. Sembari menikmati teh hangat dan beberapa cemilan yang ada, adul bercerita tentang kloter terakhir yang ternyata mengalami kejadian yang mengharukan di trek.
Kloter 3 mengerahkan seluruh sisa tenaga untuk mencapai lapak tenda yang sudah disiapkan oleh Adul. Di tengah hujan dan petir yang menyambar, Aul sempat menangis karena kedinginan. Akhirnya dengan bekerja sama mereka bisa mengatasi rasa lelah dan dingin dan mencapai tenda kloter 1.


Tenda nyasar di Goa Walet


Lapak tenda yang di atas




Rombongan kloter 3 dan Adul dapat berkomunikasi dengan HT. Jadi kloter 3 sampai di lokasi Adul jam 18.30WIB yaitu di Pos Goa Walet pada ketinggian 2950 mdpl. Ateng yang tidak se-kloter dengan saudaranya yaitu Fahmi langsung mencari Fahmi di rombongan tersebut.
“Saudara gue mana? Woii, mana nih saudara gue?” Ateng panik saat dia tak melihat Fahmi dalam rombongan itu.

Ateng dan Fahmi


“Mbak Uut mana?” Tanya Irma.
“Mbak Uut, Fahmi, Uya, Ekky gak ada di sini.” Jawab kloter 1.
“Masak belum pada nyampe sih? Orang udah jalan duluan di depan kita tadi”
Mengetahui hal tersebut mereka panik. Akhirnya Adul, dkk berusaha mencari rombongan kloter 2 yang ternyata berada di dalam Goa Walet. Sedangkan para wanita kloter 3 langsung masuk ke tenda, ganti baju dan istirahat.
Kembali ke rombongan kloter 2 yang sudah ditemukan oleh Adul. Setelah selesai menjelaskan apa yang terjadi serta menganalisis kronologi kejadian terpencarnya kloter 2 dan kloter 3, kami segera ambil posisi untuk tidur. Ateng dan Adul akhirnya tidur di tenda kami. Kami berenam berbagi tempat dalam tenda.
Keesokan paginya, kami sarapan seadanya lalu menuju tenda kloter 1 dan 2. Sesampainya kami di sana, ternyata kloter 3 sudah otw summit duluan. Aku, Ekky,Uya, Ateng dan Fahmi segera menyusul. Setengah jam kemudian sampailah kami di puncak ciremai. Kami foto-foto dan makan bekal nutrijell yang di bawa dari tenda. Tak lama kemudian Adul dan Begenk menemani Aul menuju puncak. Sedangkan kami baru bertemu dengan kloter 3 setelah mereka kembali dari arah jalur Linggarjati. Saat squad kami sudah lengkap kami lantas foto bersama di atap Jawa Barat 3078 mdpl. Yeay!








Di puncak kami hany sebentar, langsung turun menuju tenda dan memasak. Logistik kami cukup banyak, sehingga kami makan enak kala itu. Ada sayur asem, telur, martabak,dsb.

Makan sebelum otw turun BC



Siang hari sekitar jam 12.30 kami otw turun dari pos goawalet menuju basecamp. Kami istirahat cukup lama di pos tanjakan asoy. Sekalian sholat dan makan bekal martabak. Kami melanjutkan perjalanan dan bertemu hujan saat hampir sampai pos 1 Cigowong. Saat sampai di Cigowong hujan bertambah deras. Kami menunggu semua teman tiba di sana. Hari mulai gelap. Beberapa teman tidak membawa headlamp. Akhirnya habis maghrib kami melanjutkan perjalanan menuju BC. Berjalan turun gunung ditemani hujan deras tentu cukup menyulitkan kami. Terkadang jatuh kepleset, kadang tersandung akar, kadang melihat pemandangan menyeramkan di sebelah kiri-kanan. Begitulah, kalau jalan malam, hawanya sedikit berbeda. Di depan yaitu Adul-Uya lalu Aul-Ateng, lalu Arni-Begeng, Aku-Irma, dan temen-teman yang memakai headlamp berjalan satupersatu. Dengan sabar teman-teman saling memback up karena jalan licin, dan headlamp 1 untuk dipakai 2 orang. Ahkirnya jam 20.30 WIB kami semua tiba di BC dengan sehat.

Perjalanan Ciremai kali ini mengajarkan kepadaku bahwa walaupun sudah ada tim yang jalan duluan untuk mencari lapak tenda, kita tidak boleh terlena lantas berjalan semau kita sendiri. Santai boleh, tapi tetap pasang target agar tidak kemalaman sampai di lokasi mendirikan tenda. Jangan sampai miss-komunikasi antar sesama anggota tim sehingga tenda saja sampai terpisah jauh.

Lagi-lagi hal sepele yang tak boleh disepelekan yaitu alat pribadi, headlamp. Saat berjalan di malam hari headlamp merupakan gear yang sangat penting dalam pendakian. Berjalan bersama karena ada yang tidak memakai headlamp menyebabkan waktu yang diperlukan menjadi tidak efektif. Harusnya bisa berjalan cepat untuk memangkas waktu, tapi serombongan menjadi berjalan sesuai ritme teman-teman yang memakai headlamp buat barengan.
Foto bersama


Overall, aku sangat salut dengan tim pendakian ini.
Ada putri keraton yang sampai puncak dan selalu tak lupa dengan gincunya
Ada si dengkul racing yang selalu tangkas mencari tenda nyasar
Ada sweeper yang sabar menyapu seluruh anggota agar tak ketinggalan di jalur
Ada chef handal yang siap menyajikan masakan enak di gunung
Ada porter yang selalu strong membawa beban lebih banyak
Ada si tukang back up yang setia menggandeng pasangannya di jalur.
Dan adanya rasa kerjasama, saling menghargai, saling memotivasi sehingga kami semua bisa kembali ke BC dengan selamat di tengah cuaca yang tak terduga.


Makasih ya gengs....