Tampilkan postingan dengan label pendakian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendakian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 April 2019

Menapaki Tiga Puncak pada Jalur Pendakian Terpanjang di Pulau Jawa

Gunung Argopuro yang berada di provinsi Jawa Timur merupakan gunung dengan trek terpanjang di Pulau Jawa. Para pendaki lebih sering lintas jalur dalam pendakian Argopuro yaitu naik melalui Baderan (kabupaten Situbondo) dan turun di Bremi (kabupaten Probolinggo). Total jarak tempuh selama pendakian dari Baderan – Bremi sekitar 40 km. Oleh karena trek yang akan kami lalui cukup panjang, maka kami memilih melakukan pendakian ini saat musim libur lebaran.

Yeayy, keturutan juga datang ke Argopuro


Sebenarnya, sudah dua kali aku berencana mendaki gunung Argopuro dan gagal. Rencana pertama  gagal karena leader tim yang mendadak berhalangan dan akhirnya membatalkan pendakian kami, padahal kami berempat sudah membeli tiket kereta. Rencanaku yang  kedua gagal karena kondisi tubuh yang kurang fit sehingga aku memutuskan mundur pada H-1 pendakian. Sangat disayangkan memang. Tapi aku tidak mau memaksakan diri  untuk tetap ikut dan nantinya malah bisa merepotkan orang lain selama pendakian.

Aku setuju dengan pepatah “Lebih baik Merencanakan tapi berujung gagal daripada Gagal Merencanakan” Aku tidak ingin menyerah dalam merencanakan pendakian Argopuro. Setelah menebar racun di beberapa kawan dari Tangerang akhirnya terbentuk lah grup WhatsApp “Pendakian Argopuro” pada akhir bulan Februari 2018. Selama 4 bulan kami mendiskusikan persiapan pendakian di grup. Karena pendakian kali ini merupakan salah satu perjalanan yang panjang maka segala hal perlu disiapkan dengan matang.

Awal bulan Juni ditetapkan jumlah peserta pendakian Argopuro sebanyak 12 orang (Bang Bibir, Bang Ponco, Bang Deri, Bang Dymas, Uut, Mattew, Tika, Dinda, Ersyad, Malih, Syarif dan Mas Manto) dari berbagai penjuru kota. Setiap perjalanan mempunyai kisah yang tak akan sama. Selama 5 hari 4 malam kami bersama, banyak hal yang bisa dijadikan sebagai pengalaman belajar di alam. 

Kali ini aku tidak akan menceritakan secara detail tentang kisah perjalanan kami di gunung Argopuro. Akan sangat panjang jika cerita kami selama 5 hari 4 malam aku tuliskan di sini. Aku putuskan untuk membagi beberapa hal yang perlu diperhatikan saat kita akan dan sedang mendaki gunung Argopuro.

(1) Hunting info tentang Gunung Argopuro

Jika kita hendak menuju tempat yang kita sendiri belum pernah ke sana, alangkah baiknya kita mencari info sebanyak mungkin tentang tempat tersebut. Kami banyak menggali informasi tentang pendakian gunung Argopuro lewat internet. Sudah banyak yang menuliskan catatan perjalanan mereka di Argopuro. Jika belum mantap, kita tinggal berdiskusi kepada teman-teman sesama pendaki yang telah lebih dulu berkunjung ke Argopuro. Di manakah letak sumber air? Bagaimana kondisi jalur di gunung Argopuro? Berapa lama waktu normal pendakian? Yang tidak kalah penting adalah ketersediaan peta jalur pendakian Argopuro. 


 Trek menuju Pos Mata Air 1


Catatlah semua informasi yang sudah didapatkan. Semua info tersebut akan dijadikan sebagai landasan dalam menyusun rundown pendakian.

(2) Menyusun Rundown Pendakian Argopuro

Rundown digunakan sebagai acuan dalam pendakian. Sebisa mungkin kita patuhi rundown yang telah disusun dan disepakati bersama. Jika saat di lapangan terjadi hal-hal yang sifatnya tidak terduga, kita juga harus menyiapkan rundown cadangan.Kami mendaki Argopuro pada high seasons yakni libur lebaran sehingga wajar saja banyak pendaki yang memadati jalur pendakian. 

Pos Mata Air 2


Sejak start ngetrek dari pintu rimba kami sudah bertemu rombongan pendaki lain. Pos mata air 1 yang sudah penuh dengan tenda memaksa kami terus berjalan naik. Saat hari mulai gelap kami putuskan untuk mencari lapak terdekat dengan sumber air pos 1. Alhamdulillah, kami menemukan tanah yang cukup datar di sebelah kiri jalur pendakian dan muat untuk 2 buah tenda kami.

Makan semangka di Alun - Alun Kecil

Verbenna nya bikin kangen sama Semeru


Gunung Argopuro layak mendapat sebutan “seribu savana”. Banyak sekali savana yang harus kami lalui pada jalur Baderan. Dari pos mata air II kami masuk hutan lalu ketemu savana, masuk hutan lagi dan ketemu savana lagi. Begitu seterusnya sampai di Sabana Lonceng. Savana di Argopuro memang sangat indah. Sesiapapun yang datang melihat keindahannya akan dibuat takjub oleh semesta.

Cikasur

Cikasur

Cikasur
Foto bersama di Cikasur

Cikasur merupakan savana yang sangat luas yang berada di jalur pendakian via Baderan. Tempat tersebut juga menjadi campsite yang ideal bagi para pendaki karena ketersediaan air yang melimpah dari Sungai Qolbu. Salah satu pemandangan yang memanjakan mata yaitu aliran sungai yang jernih dan di pinggiran sungai tumbuh rimbun selada air. Terkadang tak hanya pendaki yang bisa memetik selada air untuk dijadikan santapan di tenda, tetapi warga sekitar gunung Argopuro juga datang ke Cikasur untuk memanen selada air. Selain itu, Cikasur juga menjadi habitat hewan-hewan misalnya merak, ayam hutan, rusa, lutung dan beberapa hewan lainnya. Rumput yang cukup tinggi di savana Cikasur membuat kami semakin merindukan kasur yang ada di rumah.Hihihi....

Campsite di Rawa Embik


Perjalanan hari ketiga yang sempat ditemani hujan ternyata tidak sesuai target. Saat hari mulai beranjak sore, kami baru tiba di Rawa Embik. Rawa Embik meruapakan versi mini dari Cikasur. Di sana terdapat area camp dan aliran sungai kecil yang jernih. Rawa Embik merupakan sumber air terakhir sebelum kami sampai di Taman Hidup. Kondisi tim yang cukup kelelahan dan badan yang mulai menggigil tidak bisa dipaksakan untuk mengejar target camp di Sabana Lonceng yang masih sekitar 1 – 2 jam perjalanan. 

Berdasarkan musyawarah bersama kami memilih untuk mendirikan tenda di Rawa Embik.Konsekuensi yang diperoleh sebagai akibat ngecamp di Rawa Embik yaitu sepagi mungkin kami harus bergerak menuju Sabana Lonceng. Tidak hanya itu, kami juga harus membawa bekal air yang cukup hingga kami tiba di danau Taman Hidup. Sebanyak 10 liter air diangkut oleh Menteri Perairan kami yaitu Mas Manto di kerilnya. Sedangkan kawan yang lain rata – rata membawa air sebanyak 1,5 liter hingga 3 liter. 

Sabana Lonceng


Sabana Lonceng biasa dipilih sebagai campsite sebelum summit attack ke puncak Rengganis, puncak Argopuro serta puncak Arca. Puncak tertinggi yaitu puncak Argopuro dengan ketinggian mencapai 3088 mdpl. Puncak Rengganis yang berkaitan erat dengan kisah Dewi Rengganis dikelilingi oleh batuan berkapur. Saat menuju puncak Rengganis kami melihat bekas puing suatu bangunan dan tumpukan batu yang mirip makam. Diperkirakan tempat tersebut merupakan petilasan dari sang Dewi.

Petilasan Dewi Rengganis

Puncak Rengganis


Kami disuguhi pemandangan yang tertutup vegetasi saat berada di Puncak Argopuro. Di sana juga terdapat tumpukan batu sebagai pertanda sisa – sisa sejarah di Puncak Argopuro. Dari puncak Argopuro kami beranjak menuju camp terakhir yaitu Danau Taman Hidup. Setelah 15 menit berjalan kami sampai di Puncak Arca/Hyang yang merupakan puncak semu. Keunikan dari puncak ini yaitu terdapat sebuah arca yang sudah tidak utuh lagi.

Selebrasi di Puncak Argopuro

Puncak Arca/Hyang

Turun dari puncak Arca dan menuju Taman Hidup

Kabut syahdu di Taman Hidup




(3) Management logistik
Logistik merupakan salah satu hal yang utama jika kita melakukan pendakian. Asupan gizi yang kita makan selama di gunung akan berpengaruh terhadap  kondisi fisik. Walau sedang berada di gunung, usahakan tubuh tetap memperoleh gizi sehingga tubuh tidak mudah lelah dan sakit. Kami menyiapkan daftar menu masakan lalu mencatat bahan apa saja yang harus kami beli. List menu akan sangat membantu dalam penentuan porsi belanja yang disesuaikan dengan kebutuhan tim. Perhatikan lama pendakian dan jumlah anggota dalam tim untuk memperkirakan kebutuhan logistik dalam tim. 

Pendakian Argopuro dengan waktu tempuh normal 5 hari 4 malam dan jumlah anggota tim kami sebanyak 12 orang tentu membutuhkan logistik yang tidak sedikit. Kami menghabiskan 7kg beras, minyak goreng 1,5 liter, telur 1kg, mie instant 15 bungkus, dsb. Adapun beberapa menu yang kami siapkan yaitu nasi putih, nasi liwet, ikan asin, sambal, kering tempe+teri+kacang, bihun jagung, tumis kacang panjang, omelette, bala-bala, sayur sop, sarden, dan pecel.

Menu sarapan di Cikasur


Memasak di campsite pertama (Pos Mata Air 1)

Makan bersama di Rawa Embik
Menyiapkan makan malam di Taman Hidup

Agar perjalanan lebih menyenangkan tak lupa kami membawa buah – buahan yaitu semangka, nanas, melon, pir, dan apel. Buah – buahan tersebut kami nikmati bersama saat istirahat di trek. Madu, coklat ataupun gula jawa merupakan pilihan camilan penambah energi saat kita  mendaki gunung.

Perjalanan hari pertama kami membeli nasi saat masih di area pasar sekitar BC. Nasi tersebut bisa dimakan saat di trek. Sekadar mengganjal perut karena petang hari biasanya baru tiba di campsite. Untuk lauk, bekal kering tempe+kacang+teri yang dibawa dari rumah bisa menjadi alternatif jika malas memasak di trek
Semua perlengkapan dan logistik tim kami bahas di grup. Jika memungkinkan, sebaiknya diadakan kopdar agar lebih maksimal dalam mempersiapkan pendakian. Saat kopdar kami lebih leluasa berkomunikasi dan jika terdapat masalah, saat itu juga bisa dicarikan solusi lain.

(4) Bagilah Bawaan Kelompok
Setiap melakukan pendakian pasti kita telah menyiapkan list barang bawaan yaitu barang pribadi dan barang kelompok. Barang pribadi harus kita bawa secara mandiri di dalam tas gunung kita masing – masing. Sedangkan barang kelompok bisa dishare kepada kawan yang lain dengan disesuaikan pada kemampuan dan volume tas gunung (keril) mereka. Kebanyakan yang terjadi adalah laki-laki dianggap lebih kuat dari wanita. Pendaki wanita sangat diuntungkan dalam hal ini karena para lelaki yang biasanya membawa beban lebih berat di keril masing-masing. Jadi para wanita tinggal membawa barang pribadi di dalam keril masing – masing.

Entah di sabana yang mana kami akan berkumpul kembali. Hehe...

Kegiatan pendakian bukanlah kegiatan yang ringan. Dibutuhkan mental dan fisik yang kuat agar bisa mencapai tujuan naik gunung yaitu “pulang kembali ke rumah dengan selamat”. Untuk mendukung pencapaian tim pada tujuan maka perlu kerja sama antar anggota tim. Jika para lelaki sudah rela membawa beban lebih di pundak, maka para wanita juga harus tahu diri. Jangan membebani mereka dengan sifat manja yang berlebihan selama di trek. Kita tentu tidak ingin dianggap sebagai wanita yang merepotkan selama pendakian. Sebisa mungkin bantulah rekan satu tim saat tiba di campsite, misalnya membantu mendirikan tenda, mengatur dan menata logistik tim untuk selanjutnya diolah dan menjadi santapan bersama.




(5) Atur Formasi saat Trekking
Pengaturan formasi saat trekking berguna untuk mencegah ada anggota dalam tim yang tercecer. Ritme kaki masing – masing orang berbeda, tergantung kondisi tubuhnya. Terkadang aku bisa berjalan cepat, tapi tak jarang pula langkah kaki ku melambat saat menyusuri jalur pendakian Argopuro. Untuk menghindari anggota tim yang mungkin bisa tertinggal di belakang, maka kita perlu mengatur formasi saat trekking.

Berjalan beriringan namun tak lupa berfoto bersama

Kami berjalan beriringan di mana wanita selalu berjalan di barisan tengah. Mengapa? Hal itu dilakukan guna memacu kami (para wanita) agar berjalan dengan langkah yang mantap dan tetap berusaha mengimbangi kecepatan kawan yang berada di depan. Hal tersebut cukup efektif agar barisan kami tetap rapat selama di trek. Jika dirasa telah lelah, jangan malu untuk berteriak “break”. Lebih baik simpan energimu untuk 5 hari ke depan daripada sejak hari pertama kamu sudah berjalan sangat cepat dan “ngoyo”. Jangan sampai kakimu kram karena terlalu memaksakan diri berjalan tanpa istirahat.

Hutan Lumut yang lembab dan rapat

Perjalanan dari puncak Arca menuju Danau Taman Hidup yang menurut logika kami adalah jalan menurun yang bakalan bikin kami bisa berlari, ternyata anggapan kami salah. Kami harus berjalan melipir di punggungan bukit untuk menuju Cemara Lima. Rasa lelah yang sudah menumpuk selama perjalanan 3 hari di gunung membuat energiku terkuras saat harus berkonsentrasi memegang akar pohon untuk membantu menjaga keseimbangan tubuh dalam perjalanan turun. Memasuki hutan lumut langkah kakiku mulai oleng karena rasa capek yang tidak tertahankan. Situasi yang tidak memungkinkan untuk beristirahat membuat aku terpaksa berjalan terus sampai di Danau Taman Hidup. Menjelang Maghrib kami tiba di Danau Taman Hidup. Alhamdulillah, bisa istirahat sambil selonjoran.

Jika kamu ingin berjalan cepat, maka berjalanlah seorang diri dan jika kamu ingin berjalan jauh maka berjalanlah bersama-sama. Ungkapan tersebut sangat pas untuk mewakili kisah perjalanan kami di gunung Argopuro.


Istirahat sedikit ^_*


Sedikit lagi sampai di Bremi, Lur!

 Nikmatilah jeda, karena akan banyak  hal – hal indah di sekitarmu yang terlewat jika kita tergesa – gesa. Manfaatkan momen istirahat sebaik mungkin. Untuk minum seteguk air, untuk mengatur nafas, atau sekadar melemaskan otot – otot kaki.


Istirahat dulu, puncak masih jauh.


Betapa semesta mendukung perjalanan kami di Argopuro. Walaupun ada beberapa hal yang meleset dari rundown, kami akhirnya menyelesaikan pendakian pada hari kelima dan sampai di Bremi dengan selamat sesuai planning. Terima kasih semesta. Terima kasih gengs. Alhamdulillah,,semoga suatu saat bisa berkunjung kembali ke Argopuro.

Kebahagiaan kami saat sampai di Bremi
Istirahat di Gerbang "Selamat Datang Danau Taman Hidup"

*********************************************************************************


Ringkasan durasi pendakian gunung Argopuro 5 hari 4 malam


Trekking

Waktu

Campsite

Day 1
Pintu rimba – pos mata air 1

4 jam
Atas pos mata air 1 (naik lagi sejauh 400-an meter)
‘lapak darurat muat 2 tenda’
Day 2
Mata air 1 – mata air 2
2 jam
Cikasur
Mata air 2 – cikasur
3 jam
Day 3
Cikasur – Cisentor
3 jam
Rawa Embik
Cisentor – Rawa Embik
2,5 jam
Day 4
Rawa Embik – Sabana Lonceng
1,5 jam
Taman Hidup
Sabana Lonceng – Puncak Rengganis
30 menit
Sabana Lonceng – Puncak Argopuro
45 menit
Puncak Argopuro – Puncak Arca
20 menit
Puncak Arca – Cemara 5 – Hutan Lumut – Taman Hidup
4 jam
Day 5
Taman Hidup – Bremi (Gapura Selamat Datang di Danau Taman Hidup)
3,5 jam


Rincian biaya pendakian Argopuro (versi Lebaran 1939 H):
1.
Tiket KA (Lempuyangan – Surabaya Gubeng)
@ 98 ribu
2.
Tiket KA (SGU – Probolinggo)
@27 ribu
3.
Carter Elf rute Probolinggo ke Baderan dan Bremi ke Probolinggo (12 orang)
@ 135 ribu
4.
Belanja logistik (12 orang)
@ 87 ribu
5.
Simaksi 5D4N
@120 ribu
6.
Ojek BC Baderan – Pintu Rimba
@ 40 ribu
7.
Tiket KA (Probolinggo – Yogyakarta)
@ 88 ribu
8.
Lain-lain
@ 50 ribu

TOTAL
645 ribu



^SEMOGA BERMANFAAT^






Jumat, 21 Juli 2017

Pendakian Gn.Merapi 2930 mdpl


Plang Merapi 2930 mdpl

Gunung Merapi termasuk gunung berapi yang masih aktif di Pulau Jawa. Gunung ini terakhir meletus pada tahun 2010 yang juga menewaskan sang Juru Kunci, Mbah Maridjan. Sebelum letusan tahun 2010, Merapi terkenal dengan Puncak Garuda. Akibat letusan itu puncak Garuda telah hilang. Yang tersisa sekarang adalah sebuah batu yang menjulang tinggi dan seorang pendaki asal Jogja (Alm. Eri Yunanto) tahun 2015 terpeleset dan jatuh ke kawah dari lokasi yang dinamakan Puncak tusuk gigi tersebut.
Aku bergabung dalam pendakian Merapi yang diprakarsai oleh Bang Ponco and the geng. Kebetulan juga dalam rombongan bang Ponco terdapat dua kawan yang pernah mendaki Semeru bersamaku yaitu Irma dan Arum. Anggota dalam pendakian Merapi ini yaitu Bang Ponco, Bang Bibir, Bang Kampleng, Ike, Bang Metthew, Arum, Irma, adiknya Irma dan aku. Mereka bersembilan pada hari Sabtu pagi telah mendaki Andong tanpa ngecamp alias tektok.


Sabtu-Ahad, 15-16 April 2017

Aku sudah mengabari bang Ponco bahwa aku akan menunggu di pertigaan Keteb. Bang Ponco, dkk berangkat menuju Keteb dari BC Andong, sedangkan aku berangkat dari rumah di Nanggulan naik motor. Aku bersama adek otw sehabis sholat Ashar. Ternyata mereka yang duluan sampai di Keteb dan harus menungguku. Aku terjebak macet saat hampir sampai di Pertigaan Keteb. Aku bertemu dengan rekan-rekan di pertigaan Keteb yaitu jam 17.10 WIB. Mobil yang disewa rombongan Tangerang+Sukabumi sudah berisikan 9 orang plus driver. Awalnya agak gak enak juga mau ikut mobil mereka, karena nanti di mobil semakin berdesakan oleh manusia. Tapi agar efektif akhirnya aku masuk dan ikut mobil sampai di basecamp. Jam 17.30 WIB setelah packing ulang tas keril di mobil, akhirnya kami berangkat menuju BC Barameru.

Mepo di pertigaan Keteb

Hari sudah malam saat kami mampir membeli logistik di sebuah toko dekat BC. Jam 19.00 WIB kami tiba di BC Barameru dan salah satu rekan mendatangi pos registrasi dan mengurus simaksi pendakian kami. Simaksi saat weekend sebesar Rp 18.500,- untuk pendakian 2 hari 1 malam per orang. Basecamp Barameru terletak di Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Dari BC kami harus berjalan kaki melewati aspal yang menanjak untuk sampai di NEWSELO. Di sana terdapat beberapa mobil yang parkir untuk mengantar pendaki yang naik Merapi. Warung-warung berjajar menghadap ke arah Merbabu, yang jika cuaca cerah maka akan tampak pemandangan yang indah gunung Merbabu. Sebelum mendaki kami makan malam di salah satu warung. Kami juga menitipkan baju bersih yang tidak terpakai saat di Merapi kepada ibu pemilik warung tsb. Perut telah diisi dan kami siap untuk start ngetrek. Kami mulai berjalan meninggalkan warung jam 20.00 WIB.
Jalan paving(cor-semen) mengawali perjalanan malam kami. Etape dari Newselo ke gerbang pendakian Merapi didominasi ladang penduduk di sebelah kanan dengan track yang cukup menanjak sebagai starting point. Aku yang menjadikan pendakian kali ini sebagai ajang pemanasan sebelum berangkat ke Rinjani, telah berkeyakinan dalam hati bahwa tidak akan jalan santai seperti keong. Saat menjumpai jalan setapak yang mulai bertambah kemiringannya dibanding jalan paving ternyata nafasku sudah tersengal-sengal. Jalanku mulai melambat hingga sampai di Gerbang Pendakian. Kami semua break agak lama di sana. Hawa kantuk mulai menyerang. Tubuhpun mulai kedinginan karena terlalu lama berdiam diri. Akhirnya salah satu rekan berkata “Yuk, lanjut lagi, udah dingin.”
Kami segera berjalan kembali menuju pos 1. Trek tetap menanjak tanpa bonus. Aku yang merasa sudah lemas, segera memakan coki-coki yang telah kusiapkan di kantong kerilku. Perjalanan di malam hari membuat paru-paru bekerja lebih ekstra karena oksigen yang kita hirup lebih sedikit. Walau begitu, perjalanan malam membuat kita fokus untuk sampai tujuan karena sekitar kita gelap dan jarang bisa mengeksplorasi pemandangan  alam. Baterai handphone menjadi awet.
Di perjalanan menuju pos 1, kami bertemu percabangan jalur dan kami dengan santainya ambil jalur sebelah kanan. Jam 22.30 WIB kami sampai di pos 1 dan istirahat di shelter sembari menunggu teman yang masih di belakang kami. Malam itu banyak pendaki yang naik Merapi. Tak dapat dipungkiri bahwa mendaki saat longweekend pasti akan menjumpai antrian di trek. Saat melihat ada pendaki yang muncul dari arah bawah-samping batu besar yang dekat dengan pos 1 barulah kusadari sesuatu. Dulu, saat mendaki Merapi pertama kali di tahun 2013 aku melewati jalur yang sama dengan pendaki tersebut. Jalur ke arah kanan akan membawa kita menuju pos 1 dalam waktu yang relatif singkat tetapi medan yang lebih terjal dan cukup menyiksa. Sedangkan jalur ke arah kiri juga didominasi tanjakan terjal dengan beberapa titik berupa tanah landai yang agak memutar. Tahun 2013 aku dan rombongan mengambil jalur kiri sedangkan saat aku bersama bang Ponco and the geng, kami memilih jalur sebelah kanan. Beberapa saat kemudian rekan kami sudah sampai.
Gue udah gak kuat kalo harus lanjut ke pos 2. Kita ngecamp sini aja “ ujar salah satu rekan
Berdasarkan mufakat, maka kami sepakat ngecamp di Pos 1 karena ada teman yang kelelahan akibat paginya tektok Andong. Di area pos 1 terdapat lapak yang bisa menampung 2 buah tenda. Karena kondisi rekan sudah letih dan ngantuk kami hanya mendirikan 1 buah tenda saja. Jam 23.30 WIB kami segera beristirahat. Yang tidur di dalam tenda adalah 4 orang cewek dan 1 cowok. Sedangkan 3 cowok lainnya tidur di teras tenda dan di luar tenda.
Ada SB gak?” tanya bang Ponco yang akan tidur di luar.
“Bang Ponco gak ada SB?”
Gak ada, mbak. Punya saya dipakai Ike.”
Yaudah, nih pakai aja. Ntar aku barengan sama Arum” kataku. Malam itu Ike terbangun karena mengeluh ngilu. Segera kami berikan minyak kayu putih padanya. Arum dan Bang Mett dengan cepat merespon keluhan Ike dan merawatnya.
Subuh kami bangun, sholat dan mulai memasak air panas. Tiga orang cewek keluar tenda dan membangunkan rekan yang tidur di luar dan segera menyuruh mereka masuk ke tenda.
Bang....masuk tenda gih..!Gantian... Kami mau masak,” kataku.
Aku, Arum, dan Irma bagi tugas untuk memasak. Aku memasak nasi, Irma meracik untuk sayur sop dan Arum meracik untuk tempe tepung-goreng.
Tak berapa lama bang Metthew muncul dan membantu kami memasak. Membantu dan bikin rusuh itu beda tipis.hahaha.

Gunung Sumbing, Sindoro tampak dari pos 1

Pos 1, lapak tenda kami


Sarapan telah siap. Kami membangunkan Ike, Bang Ponco, Bang Kampleng dan bang Bibir. Ike segera kami suguhi minuman hangat.
Minum dulu, Ike, biar badannya enak.”
Setelah selesai sarapan, kami packing untuk summit attack. Bang Mett yang sebelumnya sudah pernah muncak ke Merapi memutuskan tidak ikut bersama kami.
Gue gak ikut ya. Udah pernah sih. Gue jaga tenda aja.”
Yakin bang Mett, gak ikut? Kalo gitu ntar kita turun summit udah ada makan siang dong ya...” balas kami.
Iya deh, diusahakan, kalo bisa gue masakin, kalo gak ya udah, gue gak masak.” jawabnya pasrah.
Jam 8 pagi kami mulai start summit attack. Untuk mencapai puncak tentu dibutuhkan waktu yang lebih lama karena titik awal kami adalah pos 1. Aku sampai di Pasar Bubrah jam 10.30 WIB
Dari sekian etape menuju puncak Merapi, pos 1 ke pos 2 merupakan salah satu etape yang berat. Medan yang harus kami lalui berupa trek terjal bebatuan. Sepanjang jalur menuju pos 2 kaki dipaksa melangkah melewati batu cadas. Pemandangan Merbabu nan gagah di sebelah kanan membuat Aku, Arum dan Irma sering berhenti untuk mengabadikan moment. Saat mereka sibuk berfoto aku lantas mengatur nafasku yang sudah engap. Pagi yang cerah dengan pundak yang santai tanpa beban membuat kami berjalan dengan cepat. Saat bebatuan mulai habis itu berarti Pos 2 semakin dekat. Pos 2 merupakan salah satu spot mendirikan tenda. Tanah lumayan datar dan luas, serta masih terdapat vegetasi untuk berlindung dari terpaan angin.

View Merbabu dari atas pos 1


Medan Menuju Pos 2



Bebatuan semua


Menjelang pos 2 tampak puncak Merapi sangat dekat


Sampai di pos 2 kami beristirahat sambil menunggu rekan yang masih di belakang. Duduk menikmati semilir angin sembari ngobrol dengan 2 orang pendaki asal Bekasi membuat kami tertawa terbahak-bahak. Mereka membuat teh untuk diminum bersama-sama. Satu gelas telah siap dan ditawarkan kepada kami semua.
Ayo, bang,,, mbak,,, silakan diminum tehnya.”
Irma, Arum, Bang Bibir secara bergantian meminum teh tersebut.
Mbak uut, nih...” kata Irma menyodorkan gelas itu padaku
Enggak deh, Mut...” kataku. Entah kenapa saat itu aku tidak mau minum teh tersebut. Padahal Aku termasuk penyuka minum teh di ketinggian. Wkwkwkwk.
Gelas itu pun segera kembali ke tangan empunya. Lantas dia minum dan berkomentar.
Kog rasanya ada yang kurang ya?” pikirnya
Kami semua terkejut dan penasaran. “Emang kenapa Bang? Enak kog.”
Tiba-tiba pendaki asal Bekasi yang satu lagi nyeletuk,  “Duh,,,gue lupa. Tadi tehnya belum di kasi gula.”
Temannya terkejut dan berkata, “Wah,,lu gimana sih...Tanggungjawab!”
“Yaudah sih,,,bikinin yang baru,,,pake gula tapi jangan lupa.”
Sontak kami semua tergelak menyadari bahwa walaupun teh tanpa gula, tetapi tetap terasa nikmat.
Kalian gak nyadar apa, itu gak manis?” tanyaku
Enggak mbak,,,enak sih. Apa karena lagi haus ya,,sampe gak nyadar gitu.” jawab mereka.
Teh yang benar pun kemudian Aku yang pertama mencicipi. “Ini baru teh manis. Ha....”
Setelah berbincang cukup lama dan tidak nyaman melihat sebelahku duduk memasak mie instant, aku bertanya pada Bang Bibir, “Gimana kalo kita nunggu mereka sambil jalan lagi?
“Mau jalan nih? Hayuk lah...” jawabnya.
Bang duluan ya,,” Kami pun berpamitan dengan pendaki asal pendaki dan juga pendaki yang sedang memasak mie.
 Sampai di watu gajah kami berhenti sejenak untuk beristirahat. Di area watu gajah banyak monyet berkeliaran. Beberapa terlihat mendekati tenda untuk mencari sisa makanan dari pendaki. Ada juga monyet yang sedang bergelantungan di pohon.
“Bang Ponco, Ike, Bang Kampleng belum kelihatan nih... mau lanjut?”
“Lanjut aja, kita tunggu di Pasar Bubrah”
Kami pun segera menuju titik terakhir sebelum puncak Merapi. Meninggalkan Watu gajah kami merasakan hawa panas kian menyengat. Jam 10 pagi kala itu dan matahari tengah membagikan sinarnya pada penduduk bumi. Pasar Bubrah cukup ramai. Pasar bubrah di Merapi ibarat alun-alun karena area tersebut berupa tanah datar tanpa vegetasi yang dipenuhi oleh bongkahan batu-batu material vulkanik berbagai ukuran. Ada yang jumbo, ukuran sedang dan ukuran kecil layaknya kerikil. Beberapa tenda tampak dibangun dekat dengan batu yang sangat besar di area itu. Kami semua duduk beristirahat dan menikmati suasana Pasar Bubrah. Banyak pendaki yang berfoto bersama di papan penanda yang bertuliskan “Pasar Bubrah”. Tak terkecuali kami semua. Selesai berfoto ria di sana, akhirnya sampai juga Ike, Bang Ponco dan Bang Kampleng di Pasar Bubrah. Walaupun panas kian menyengat kami tetap semangat untuk antri foto bersama fullteam (tanpa bang Mett). Kabut yang datang menutup Puncak Merapi kala itu membuat kami sempat was-was. Setelah yakin di puncak akan cerah maka kami semua memantapkan hati untuk menggapai Puncak Merapi.

Fokusnya berantakan

Pasar Bubrah (fullteam)

Bareng gadis Sukabumi

Belakang kami udah Puncak Merapi



Jam 11.30 WIB kami semua berjalan beriringan menuju Puncak Merapi. Sampai di papan peringatan “STOP!! Berhenti di Sini. Batas Aman Pendakian” aku berhenti sejenak dan berdoa agar kami serombongan selamat sampai turun kembali ke BC. Sebenarnya pihak pengelola sudah memberikan rambu-rambu yang seharusnya dipatuhi oleh para pendaki bahwa pendakian Merapi hanya sampai di Pasar Bubrah. Tapi apalah daya, karena pengaruh ego yang kuat dari kami, peringatan tersebut seolah tidak terlihat. “Udah jauh-jauh sampai sini, masak gak muncak?Yang penting tetap keep safety dan cuaca mendukung” begitulah salah satu kalimat pembenaran dari kami.
Jalur melipir ke kiri dulu baru naik

Puncak tertutup kabut

Medan pasir saat melipir

Tampak Pasar Bubrah jika difoto dari atas


Mulai dari titik ini terlihat jejak kaki para pendaki yang berjalan melipir ke arah kiri naik lalu belok kanan dan mulai lurus naik untuk mencapai bibir kawah Merapi. Berjalan pada medan berpasir yang penuh kerikil cukup menyulitkanku. Trek pasir halus itu menyebabkan langkah kakiku terasa berat. Beberapa kali tubuhku oleng karena tangan tak mempunyai pegangan. Perlahan tapi pasti akhirnya kami bisa melalui trek pasir dan selanjutnya telah membentang bebatuan yang cukup rapuh yang bisa menggelinding kalau kita salah ambil pijakan.

Mendekati puncak Merapi

Setapak demi setapak dengan sangat berhati-hati aku memilih batu tempat berpijak. Sambil terus berdoa, aku ajak tanganku bekerja sama untuk menopang keseimbangan tubuh saat di track. Arum terlihat sangat gesit mengejar Puncak Merapi. Aku sesekali menengok ke belakang dan terlihat beberapa pendaki yang tengah berjuang sepertiku. Jalur bebatuan yang aku pilih ternyata terlalu ke kiri dan tak kusadari hal itu sangat berbahaya. Aku hanya mengikuti 2 orang pendaki yang berada di jalur tersebut. Saat mendekati puncak kulihat dua pendaki itu merayap di tanah. Aku mengumpat dalam hati saat aku merasakan jalur itu langsung. “Arrghhh...susah sekali ini” kataku. Saat itu aku melihat Arum sudah melambai-lambai ke arahku.
Mbak ut,  jangan lewat situ. Berbahaya. Lewat situ aja,” katanya sambil menunjuk ke arah sisi kananku yang notabene cukup jauh.
Susah, Arum,,,gimana ini?” ujarku panik. Padahal bibir kawah tinggal 8 meter dari posisiku saat itu. Aku masih berusaha merayap saat kakiku malah terpeleset. Terlihat bang Bibir sudah sampai di dekat Arum.
“Bang Bibir,,itu mbak Ut gimana?” berusaha mencari solusi untukku.
Bang,,aku serius ini,,gak lagi becanda.” teriakku pada Bang Bibir.
Iya, Mbak...saya juga serius, kalo gak serius mana ada saya tolongin.” Katanya sembari mendekat ke arahku. Dengan bantuan Bang Bibir aku berhasil sampai di bibir kawah.
“Makasih, bang.” Kataku penuh malu.
Aku pun segera mengucap rasa syukur kepada Sang Pencipta. Duh, rasanya tadi itu pokoknya gak karuan. Etape Pasar Bubrah menuju bibir kawah merupakan rute berat yang kala itu membuat jantungku berdetak tak karuan akibat salah pilih jalur.

Puncak Tusuk Gigi (yang belakang jauh?)

Dasar Kawah Merapi

Still waiting you,,,, kata doi. wkwkwk

Saat aku berdiri di bibir kawah bau belerang dari arah kawah sangat menyengat. Pada musim hujan memang muncul asap belerang yang lebih banyak dibanding musim kemarau. Jangan lupa siapkan masker ataupun buff untuk meminimalisir masuknya gas belerang ke paru-paru kita. Kulihat waktu menunjukkan jam 12.30 WIB saat kami tiba di bibir kawah Merapi. Saat aku melihat ke bawah, dasar kawah Merapi tidak terlihat. Hal itu karena banyaknya asap yang keluar dari kawah sehingga membatasi pandangan mataku. Berbeda saat dulu aku mencapai titik ini pada bulan November 2013. Dasar dari kawah Merapi sangat terlihat jelas oleh mata telanjang. Cukup lama kami berada di area bibir kawah Merapi. Sembari menunggu Ike yang dikawal oleh bang kampleng menuju puncak, kami menghabiskan waktu untuk foto selfie. Segera setelah Ike dan bang Kampleng sampai, kami berfoto bersama di area puncak Merapi.
Fullteam,,Yeayy...

Kawahnya tertutup asap


Terima kasih gengs,,, 

Sekitar jam 2 siang kami segera turun menuju area camp karena takut kesorean. Turun menuju Pasar Bubrah sudah membuat kepalaku pening. Pening karena kepanasan. Kurasakan pipiku sudah mulai terbakar terik matahari. Seharusnya sebelum terpapar sinar matahari, area kulit yang terbuka diolesi sunblock terlebih dahulu. Aku dengan sangat fokus memilih batu pijakan yang kuat agar tidak terpeleset. Sampai di area pasir aku setengah berlari turun mengejar rekan yang sudah sampai di bawah. Menuruni trek pasir lebih mudah dari pada naik di trek pasir. Di area pasar bubrah aku sempat berhenti untuk foto berlatar Puncak Merapi yang terlihat begitu jelas tanpa terhalang kabut.

Terima kasih Merapi, kau tak pernah ingkar janji.. see you next time...

Saat aku berjalan bersama Imut sedangkan teman-teman bergegas menuju area camp, kami kehabisan air minum. Terpaksa kami berdua makan madu, maksudnya agar tenggorokan tidak begitu kering akibat kurangnya pasokan air ke dalam tubuh. Sepanjang trek aku dan Imut tertawa terpingkal-pingkal mengingat semua moment yang pernah kami lalui bersama. Moment di beberapa pendakian terakhir kami. Baru di Merapi ini aku bisa lepas tertawa di track bersama rekan pendakian. Biasanya lebih banyak diam karena saking lelahnya. Mungkin karena sama-sama cewek dan berdua saja, jadi kalau menggosipkan sesuatu pasti sinyal kami tersambung dengan lancar dan cepat bagaikan sinyal 4G. Sekitar jam 4 sore aku dan Imut menjadi orang terakhir yang sampai di Pos 1. Kami beristirahat sebentar dan berbincang dengan bang Mett. Ternyata dia sudah menyiapkan makan untuk kami semua. Ada puding, lauk, nasi sisa semalam, yang kurang hanya sayur saja. Katanya dia tidak bisa masak sayur asem. Padahal kami sudah meracik bahan sayur asem, tinggal dimasak saja. Karena hari semakin sore, kami makan apa adanya saja. Lauk kering tempe menjadi menu utama kami. Beberapa rekan ternyata masih lapar sehingga kami memasak mie instant dan bihun sebelum bongkar tenda. Kami makan bersama di gazebo pos 2. Semburat langit orange muncul di ufuk barat. Indah sekali sunset di pos 2.
Warna Senja di Merapi


Makan Bersama di Pos 2

Saat kami packing hari mulai beranjak malam. Kami mulai otw turun menuju NewSelo jam 18.30 WIB. Sayangnya saat perjalanan malam hari, headlamp kami ada yang mati. Mau tidak mau kami harus berjalan beriringan dan rapat karena tidak semua anggota memakai headlamp. Beberapa dari kami terpeleset di jalur karena hari sudah malam, fokus mulai berkurang drastis. Bisa jadi karena perut sudah mulai lapar lagi. Perjalanan terasa jauh. Kami harus bekerja sama saling menyinari agar rekan yang tidak memakai headlamp dapat melangkah dengan benar. Sampai di jalur paving kami mulai agak terpencar. Kami mendapat bantuan cahaya dari rembulan sehingga beberapa yang sudah lelah berjalan agak cepat. Saat kami tiba di warung ternyata warung yang kami titipi baju sudah tutup. Dengan dibantu pemilik warung sebelah, tak berapa lama kemudian, datang seorang pemuda yang membawa kunci dan membukakan warung tsb untuk kami. Arum segera mengambil kantong baju kami bersama. Dia juga berusaha membangunkan bang Bibir dan memberitahunya agar mengambil baju yang dia titipkan juga. Tetap saja bang Bibir tak beranjak dari bangku panjang tempat dia tidur.
Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Saat kami semua tiba di Temanggung, rumah salah satu karib-nya Bang Ponco and the geng, barulah diketahui bahwa ada baju yang tertinggal di warung Newselo. Baju bersih kepunyaan bang Bibir tertinggal di sana. Ada miskomunikasi di antara kami sehingga titipan bang Bibir terabaikan. Setelah sedikit berdebat akhirnya Bang Bibir sudah pasrah akan kejadian tsb. Akhirnya aku tidur jam 03.30 WIB setelah sempat ngrumpi asik bersama Irma.

"Aku senang berkumpul dengan orang-orang yang patah hati. Mereka tak banyak bicara. Mereka jujur dan berbahaya.Mereka pun tahu apa yang mereka cari. Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri" (M.Aan Mansyur dengan sedikit gubahan).


Gegara beginian jadilah ketinggalan kereta ke Jakarta. Hiks....


...................to be continued...................... 

“Keseruan Main Air di Curug Hingga Harus Ketinggalan Kereta”     ^_*