Tampilkan postingan dengan label Gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gunung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Juli 2018

CATATAN PERJALANAN GUNUNG TAMBORA 3D2N





Gunung Tambora sudah masuk dalam waiting list-ku sejak akhir tahun 2017, tapi aku tak menyangka secepat ini akan mendapat ajakan mendaki ke sana. Berawal dari DM seorang kawan yang notabene sudah lama berkecimpung dalam kegiatan outdoor,

“Mbak, posisi di mana? Saya lagi di Sumbawa nih!”, akhirnya perjalanan kami yang luarbiasa dimulai.

Gunung Tambora merupakan salah satu gunung yang berada di perbatasan kabupaten Bima dan kabupaten Dompu di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Sebagai Geopark Nasional Indonesia, gunung Tambora tidak hanya menawarkan potensi keragaman hayati di dalamnya. Sejarah letusan dasyat gunung Tambora pada tahun 1815 memunculkan kaldera yang sangat luas, bahkan terluas di Asia. Akibat letusan dengan kekuatan 171 ribu kali bom atom Hiroshima ini, gunung Tambora juga kehilangan hampir separuh dari ketinggian awal yang mencapai 4200 mdpl.

Jalur pendakian Gunung Tambora yang populer antara lain:

1.       Pancasila (Dompu)

2.  Kawinda Toi, jalur baru dan diresmikan Desember 2017 (Bima)


Durasi pendakian jalur Kawinda Toi dinyatakan lebih singkat daripada jalur pancasila. Tetapi kami memilih mendaki Tambora via Pancasila. Mengapa? Karena kami mempertimbangkan jika tanpa guide lokal, maka pilihan yang tepat adalah lewat desa Pancasila. Yap, kami (yang pada kenyataannya hanya berdua saja dan belum pernah mendaki Tambora) akhirnya sepakat memilih desa Pancasila sebagai tempat meeting point.

Bisa dibilang pendakian Tambora ini merupakan perjalanan paling mendadak seumur hidup. Dalam waktu 2 hari sejak ada ajakan dari kawan, aku akhirnya memutuskan untuk berangkat ke Pulau Sumbawa. Beruntungnya aku, walaupun sempat kehabisan tiket kapal menuju Sumbawa akhirnya dengan bantuan kawan di Sumba, aku bisa menyeberang ke Sumbawa.
Tiket Kapal menuju Sumbawa

Hari Sabtu malam, kapal khusus penumpang yaitu Awu bertolak dari pelabuhan Waingapu, Sumba Timur, NTT menuju pulau Sumbawa, NTB. Perjalanan satu malam di laut pada musim mudik, membuatku tidak dapat tidur karena aku dan rombongan teman-temanku yang akan mudik ke Jawa tidak mendapat tempat duduk. Akhirnya aku tidur di geladak kapal, berselimutkan jaket dan beralaskan trash bag yang kubawa. Dinginnya angin malam dan suara langkah kaki orang-orang yang lalu-lalang tak kupedulikan. Kupaksakan mataku terpejam, agar esok hari badan lebih segar dan bisa melanjutkan perjalanan via darat dengan lancar.


Minggu pagi sekitar jam 08.00 WITA, kapal berlabuh di Pelabuhan Kota Bima. Salah seorang kawan, sebut saja Bang Ahsan yang akan mengantarku ke halte bis menuju Desa Pancasila. Pelabuhan Bima menuju kota Dompu ditempuh selama 2 jam dengan sepeda motor. Aku mampir ke kota Dompu karena menitipkan beberapa barang yang tidak perlu dibawa selama pendakian. FYI, dari pelabuhan kota Bima, kita bisa mencari bis jurusan Bima-Calabai mapun Bima-Kedindi untuk mencapai desa Pancasila.

Aku menunggu bis di cabang Bango, tidak jauh dari terminal Dompu. Sore hari menjelang jam 16.00 WITA akhirnya bis yang menuju Kedindi tiba. Jangan bayangkan bis di Sumbawa sama bagusnya dengan bis di Jawa. Saat aku masuk ke dalam bis, aku kaget karena celah antara kursi di sayap kanan dan kiri disambung dengan sebilah papan agar bisa diduduki penumpang. Awalnya aku susah menemukan posisi nyaman untuk berdiri. Bis penuh dengan barang muatan para penumpang. Akhirnya seorang pria mengalah dan memberikan tempat duduknya padaku. Jadilah aku duduk di kursi papan darurat.

Pemandangan menjelang malam sungguh indah, padang rumput terbentang di sebelah kanan-kiri ditemani segerombolan ternak (sapi) liar yang sengaja “diumbar” sang pemilik. Ombak pantai terlihat sangat indah dari jalan raya. Jalan aspal nan mulus dengan kelak-kelok menyusuri pinggir tebing merupakan sensasi khas alam sumbawa. Perjalanan selama 4 jam di dalam bis cukup menguras tenaga. Betapa tidak. Setiap ada penumpang yang turun dan lewat ke arahku, aku harus bergeser dan menunduk agar badanku tidak terkena kaki mereka.


Saat tiba di Pasar Senen, hari sudah malam. Jam “Guess” di tanganku menunjukkan pukul 20.00 WITA. Pasar Senen merupakan sebuah pasar yang ramai terjadi transaksi jual beli pada hari Senen, maka disebut Pasar Senen. Dari Pasar Senen kita bisa melanjutkan perjalanan menuju BC pak Saiful di desa Pancasila menggunakan ojek dengan harga normal 30 ribu. Posisi kawan (sebut saja Adul) saat itu berada di penginapan Zulfikar sekitar 1 km dari Pasar Senen. Dari penginapan Zulfikar kami naik ojek menuju BC pak Saiful dengan harga 50ribu per orang. Tarif ojek di sana cenderung naik ketika hari sudah malam. Jalan yang sepi dengan medan agak rusak dan penuh tanjakan membuat kang Ojek sangat berhati-hati mengendarai motornya yang kami naiki bertiga. Iya “Cenglu” kalau istilah Jawa, kang Ojek di depan bersama tas kerilku, Adul berada di tengah, dan aku paling belakang. Untung saja kerilnya Adul sudah diangkut ke BC sejak hari Sabtu. Sebenarnya, Adul sudah tiba di desa Pancasila sejak hari Sabtu. Dan kami sepakat mulai ngetrek Senin pagi.


Hal yang paling penting dalam pendakian salah satunya yaitu logistik. Aku sengaja membawa beberapa stok cemilan yang ada di kos agar lebih menghemat biaya seperti choki-choki, nata de coco, dan nutri jell. Sedangkan logistik lainnya kami beli bersama-sama di Pasar Senen. Saking lelahnya aku menempuh perjalanan yang sangat panjang, kami hanya membeli beras, telur, mie instant, buah dan bumbu penyedap. Bawang merah, bawangputih, cabe serta sayuran kami lupa beli. Siap-siap saja kami makan sederhana di gunung.

Penginapan di BC pak Saiful


BC pak Saiful terletak di desa Pancasila, kecamatan Pekat, kabupaten Dompu, NTB. Di basecamp ada beberapa kamar yang disediakan untuk pendaki beristirahat sebelum atau sesudah pendakian. Tarif tiap kamar yaitu Rp 100.000,- per malam dengan fasilitas kamar mandi luar (kamar mandi umum). Kamar cukup luas dan tersedia sebuah kasur busa yang cukup untuk 4 orang. Di BC pak Saiful terdapat listrik tapi tidak ada sinyal (berkebalikan dengan Mahambala yang tanpa listrik tapi ada sinyal, wkwk).


BC-POS 1

Senin jam 07.00 WITA kami sarapan mie rebus sekadar untuk mengganjal perut. Selesai packing dan mengurus simaksi kami berpamitan dengan Pak syaiful. Sembari menggambarkan peta secara kasar, beliau menyarankan kami agar naik ojek dari BC ke pintu rimba. Agar lebih menghemat waktu dan tenaga kami putuskan untuk naik ojek sampai di pintu rimba. Perjalanan dengan ojek pun tak semulus yang kukira. Tanah padat minim batu dengan banyak jejak ban motor serta truk membuat medan semakin licin karena di sekitar merupakan hutan rakyat yang cukup rapat. Beberapa kali aku harus turun karena motor tidak kuat menanjak di jalan yang licin. Sensasi seperti ini kudapatkan juga kalau berkendara menuju Mahambala. (Mahambala terus, sih?!)

Kami mulai ngetrek dari pos rimba jam 09.00 WITA. Melewati pintu rimba kami melewati jalan setapak yang lama kelamaan berubah menjadi jalur bekas ban motor. Mulai dari awal trekking aku diminta jalan didepan. Kalau aku jalan di belakang pasti aku akan ketinggalan sangat jauh dari Adul. Maklum saja, kawanku ini sudah sering jadi guide sekaligus porter dalam suatu pendakian. Sudah tak dapat dipungkiri bahwa dengkul kami beda kekuatan. (Hahaha, Piss ya DuL... )

Belum ada 1 jam menyusuri hutan, Adul mulai bimbang antara tetap lurus ikuti jalur motor atau belok kiri yang mana terdapat rafia yang diikat pada ranting sebatang pohon sebagai penunjuk jalan. Keberadaan peta yang kami pegang tidak membantu banyak. Peta yang kami dapat dari BC merupakan peta menuju puncak dari pos 5. Sedangkan dari pintu rimba sampai pos 5 kami tidak punya petunjuk. Akhirnya kami putuskan belok kiri dan ternyata kami sampai di jalan yang lebih lebar di mana kendaraan roda empat pun bisa lewat. Kami mulai ragu, tetapi kami tetap berjalan hingga menemukan sebuah Pura yang ternyata merupakan pusat kegiatan keagamaan umat Hindu di Pulau Sumbawa. Di dekat Pura kami menemukan rumah. Sayangnya kami tak menjumpai seorang warga di sana. Kemungkinan warga sedang pergi berladang. Tak berapa lama kemudian, kami bertemu seorang warga dan mendapat info bahwa arah pos 1 masih lurus terus menuju kampung Bali. Kampung Bali termasuk wilayah kabupaten Bima. Di kampung tersebut banyak perantau asal Bali yang menetap di sana, hingga warga Kampung bali mempunyai Pura khusus sebagai tempat mereka beribadah di wilayah tersebut.  Setelah mendapat petunjuk rute menuju pos 1 dari salah seorang warga kampung Bali, jam 10.30 WITA kami segera melanjutkan perjalanan.
Abaikan yang Kaos Merah



Di pinggir jalan kami menemukan bangkai ular piton berukuran sebesar paha orang dewasa. Tampak di tengah jalan tercecer bekas darah ular tersebut. Bau anyir seketika tercium oleh hidung kami. Ternyata ular tersebut sengaja dibunuh karena meresahkan warga sekitar. Sepengetahuan kami, gunung Tambora memang merupakan habitat ular piton. Entah kenapa ular piton bisa sampai di area pemukiman penduduk sekitar.


Kami melewati pos 3 buah dan meyakini bahwa kami harus terus berjalan lurus. Padahal di pos (yang terdiri dari  3 buah bale-bale) itulah seharusnya kami ambil kanan dan terus berjalan naik. Pada akhirnya kami tahu kalau kami nyasar kembali setelah bertanya pada 2 orang warga yang sedang beraktivitas di sekitar kebun kopi. Nyasar 2 kali untuk mencapai pos 1 membuat kami lelah dan cukup stres. Saat itu yang kami pikirkan adalah bagaimana caranya sampai di pos 1 dan bisa istirahat.
Nyasar di area kebun kopi warga

Dari pos 3 buah kami mulai melewati kebun kopi dan jalan mulai menanjak. Setelah melewati jalan “cor” dan terdapat pipa air, kami tiba di jalan setapak dominasi tanah yang sering dilalui sepeda motor. Ojek dari BC pun ada yang sanggup sampai pos 1 dengan biaya lebih mahal tentunya. Mindset di otak yang cenderung negatif karena sempat nyasar dan perut yang kelaparan membuat langkah kakiku gontai. Akhirnya aku minta “break”. Di pinggir jalan kami minum untuk sekadar membasahi tenggorokan. Beberapa motor tampak lalu-lalang membawa kayu hasil penebangan hutan rakyat. Secara spontan kami punya ide untuk ngojek-in keril kami sampai di pos 1. Dan kang Ojek yang bersedia itu adalah seorang anak yang masih seumuran dengan siswa SMP/SMA. Setelah 20 menit kami berjalan, sampailah kami di pos 1. Sayangnya, kang ojek kami tak terlihat batang hidungnya. Hanya 2 tas keril kami sudah nangkring di pos 1. Dia memang Malaikat bagi kami, bersedia menolong tanpa diberi upah.



POS 1 – POS 2

Kami istirahat di pos 1 selama 40 menit. Adul sibuk mengisi botol kosong kami dengan air dan aku hanya duduk diam mengatur nafas. Sesekali kami membahas kisah nyasar kami yang dramatis. Alhamdulillah, walau nyasar, akhirnya sampai juga di pos 1.

Perjalanan yang sebenarnya dimulai dari pos 1. Untuk menuju pos 2 kami melewati jalan setapak yang sempit dan dipenuhi semak belukar. Kadang dibutuhkan parang untuk menebas semak yang menghalangi jalur pendakian. Tak jauh dari pos 1 kami bertemu dengan rombongan pendaki dari Eropa yang tampak berjalan turun menuju pos 1. Mereka ditemani oleh guide lokal. Setelah bertegur-sapa dengan para guide, kami bergegas menuju pos 2.

Di pos 2 terdapat mata air berupa sungai yang sangat jernih. Di area ini ideal sebagai tempat memasak karena sumber air yang sangat dekat. Tinggal turun sekitar 20 meter ke arah jalur menuju pos 3 maka kita akan temukan sumber air di pos 2.


Sumber air di Pos 2

Terdapat 2 buah bale-bale yang dinaungi pohon yang sangat besar di area pos 2. Untuk kondisi tertentu, pos 2 dapat dijadikan sebagai campsite.

Pos 2



POS 2 – POS 3

Dari pos 2 perjalanan masih berupa jalan setapak penuh semak belukar. Kadang kita jumpai turunan, kadang juga tanjakan. Hutan menjadi lebih rapat dan jalan akan terasa sangat licin dan berat saat musim hujan. Saat musim hujan, hutan di Tambora akan memunculkan lebih banyak pacet. Pakailah gaither dan semprotkan area sepatumu dengan baigon semprot untuk meminimalisir serangan pacet. Tak jarang kami jumpai pohon-pohon tumbang yang menghiasi perjalanan kami. Ada saatnya merangkak lewat di bawah pohon yang tumbang, tapi seringkali kami lewat atas, meniti pohon tumbang tersebut.

Pos 3

Pos 3 merupakan area camp yang paling luas di antara pos yang lain. Kami tiba di pos 3 jam 17.30 WITA. Pelajaran paling berharga bagi kami, jangan lupakan hal-hal kecil yang dapat berakibat fatal saat berada di rimba raya. Kami lupa bertanya letak sumber air pada pak Syaiful maupun serombongan pendaki yang sempat kami temui di jalur. Setelah berusaha mencari sumber air, Adul akhirnya menemukan sumber air yang ternyata masih harus berjalan lurus, barulah turun sekitar 200 meter ke arah kanan. Kami baru menemukan sumber air jam 18.30 WITA. Artinya butuh waktu 1 jam bagi kami bisa menemukan sumber air setelah berputar-putar di sekitar pos 3. Banyak adegan konyol yang tercipta saat aku kelelahan mengikuti Adul mengambil air. Terpeleset, jatuh ke bibir jurang, tapi untungnya semua bisa aman terkendali.

Malam itu hanya ada tenda kami di pos 3. Adul menyalakan api unggun sebagai tindakan antisipasi atas liarnya rombongan babi hutan di sana. Tetap waspada, konon katanya banyak babi liar yang kadang mencari makan di area pos 3. Jangan sampai mereka mengobrak-abrik logistik ataupun tenda kita. Setelah makan malam aku tak banyak bicara. Badan rasanya sangat lelah dan ingin segera tidur. Akhirnya aku tidur duluan.



POS 3 – POS 4

Pagi hari, badan terasa lebih segar. Suasana pagi di pos 3 sangat riang. Suara burung berkicau terdengar tak ubahnya bagai nyanyian penyemangat bagi kami. Setelah makan, beres-beres dan packing keril, jam 09.30 kami melanjutkan perjalanan kembali.

Dari pos 3 menuju pos 4, siapkan sarung tangan dan buff karena kita akan menjumpai jelatang di kanan kiri trek yang mendominasi perjalanan. Jangan sampai terkena sentuhan lembut jelatang karena kulit kita akan menjadi perih dan panas. Trek mulai menanjak dan irama detak jantungku mulai tak beraturan. Jarak dari pos 3 ke pos 4 terbilang dekat jika dibandingkan dengan jarak pos 2 ke pos 3. Mendekati pos 4 kita akan menjumpai pohon-pohon cemara yang menjulang tinggi. Pos 4 merupakan area datar yang cocok untuk membuka bekal logistik. Tidak ada sumber air di pos 4. Kabut siang itu begitu mistik di pos 4. Kabut yang cukup magis tersebut sayang sekali jika dilewatkan tanpa berfoto. Beberapa kali kami mengambil foto dengan berbagai gaya. Hasilnya luar biasa.

Pos 4

Berusaha mencari sinyal


Setelah cukup istirahat dan berfoto, kami segera melanjutkan perjalanan menuju pos 5.



POS 4 – POS 5

Sejak awal perjalanan meuju pos 5 semakin banyak jelatang yang menyambut. Tetap gunakan kaos lengan panjang, celana panjang, masker/buff serta sarung tangan agar kulit kita tetap aman dari sengatan jelatang.

Jarak pos 4 ke pos 5 cukup dekat, hanya butuh 1 jam untuk sampai di pos 5. Pos 5 merupakan area yang cukup terbuka dan bisa dijadikan sebagai campsite. Banyak bekas api unggun yang terlihat di pos 5. Kalau kalian ingin mendaki Tambora dalam waktu 2 hari 1 malam, berarti pos 5 merupakan tempat yang pas untuk mendirikan tenda.



POS 5 – Bibir Kaldera

Dari pos 5 kita akan turun ke bawah ke arah kanan dan menjumpai aliran sungai yang kering saat musim kemarau. Sumber air terakhir di tambora adalah sebuah genangan air yang cukup banyak di sungai yang kering tersebut. Saat kami ke sana, sebenarnya air di kubangan itu tidak layak dikonsumsi karena bau dan warnyanya sudah berubah. Karena bekal air sudah habis, kami tetap mengambil air untuk selanjutnya dimasak sebelum dikonsumsi.
Sumber air saat musim kemarau di sekitar Pos 5
Hati-hati memilih batu untuk pijakan karena cukup licin


Meninggalkan sungai yang kering, kami berjalan naik menyusuri trek yang didominasi perdu, rerumputan dan pohon cemara. Sampai di pos Cemoro Tunggal kami mulai membaca peta dari pak Saiful. Pos cemoro tunggal merupakan salah satu titik di mana kita bisa memperoleh sinyal walaupun lemah. Di pos Cemoro Tunggal terdapat makam/monumen in memoriam seorang Guide Lokal pertama yang sangat terkenal yang meninggal di Gunung Tambora saat mengantar tamu naik Tambora.
Cemoro Tunggal 


Setelah melalui Cemoro Tunggal kami ambil arah tanjakan ke kanan, sesuai arahan peta dari pak Saiful. Mulai di titik ini, aku persilahkan Adul untuk jalan duluan. Adul pun mulai berjalan duluan untuk mencari lapak ngecamp. Trek yang dilewati semakin menanjak dan nafasku mulai tak stabil sejak meninggalkan genangan air. Jalan setapak mulai terbuka dan berubah menjadi medan berbatu yang didominasi pasir. Mirip dengan trek pasir letter “S” di Rinjani. Trek pasir inilah yang akan mengantarkan kami sampai di bibir Kaldera. Ada suatu titik yaitu medan berpasir sangat lembut, yang cukup menguras tenaga, padahal landai. Aku hanya bisa menyeret sepatuku karena sudah letih.
Trek pasir di area bibir kawah Tambora
Kabut Sore 


Aku sampai di bibir kaldera jam 16.00 WITA. Di bibir Kaldera, pasir mulai padat dan bercampur dengan batu. Kulihat Adul menyusulku untuk menunjukkan lapak yang telah dipilih. Kita harus cermat memilih tempat untuk ngecamp. Tanah di bibir kaldera yang tergolong rapuh menjadi alasan kami untuk tidak mendirikan tenda sembarangan. Angin di sekitar kaldera yang minim vegetasi membuat Adul harus memasang patok tambahan lebih banyak dari biasanya.
Porter, Guide, sekaligus Koki multitalenta


Kawah Tambora



Candid



Plang hasil karya Adul dengan memanfaatkan seng bekas dan arang

Kami bisa menikmati indahnya sunset di kaldera Tambora. Saat matahari terbenam, kami melihat warna jingga matahari membalut pemandangan Rinjani. Lukisan nyata Sang Pencipta memang sangat luarbiasa. Kaldera yang sangat luas terbentang di depan tenda. Gugusan bintang di langit malam tampak memukau mata, membuat siapapun yang berada di sana larut dalam obrolan malam yang penuh rahasia. Angin malam yang semakin dingin menyudahi dialog kami. Suasana yang sangat sunyi semakin terasa syahdu bersama alunan musik dari speaker yang Adul bawa,

“.........................................

Dia telah sangat menyumbar tanya

Termenung memendam perih usia

..............................................

Indah surganya takkan seindah di surgaNya

Tambora menjadi latar belajar manusia

Kenali bahasa alam Tambora

................................................”

OST Tambora, The Trail of Ancestor



Bibir Kaldera – PUNCAK

Diperlukan waktu summit attack sekitar 15 menit dari tenda kami di bibir kaldera. Puncak gunung Tambora sangat indah. Hamparan pulau Satonda, pulau Moyo serta gagahnya kaldera Tambora membuat kami tidak berhenti bersyukur karena telah sampai di tempat ini.


Puncak Tambora


Sisi lain puncak Tambora

Ketinggian gunung Tambora pasca letusan hebat tahun 1815 yaitu 2851 mdpl. Kaldera yang terbentuk mempunyai diameter antara 6 – 8 kilometer dengan kedalaman kaldera mencapai 1300 meter. Tak heran kaldera Tambora menjadi kaldera terluas di Asia.

Di puncak Tambora juga terdapat tugu in memoriam Wakil Menteri ESDM era pak SBY, yaitu Widjajono Partowidagdo yang meninggal saat berada di sekitar kaldera Tambora.


Setelah puas menikmati suasana puncak dan berfoto, kami segera turun ke area camp. Adul tidak ingin lama-lama di bibir kaldera dan ingin segera turun ke BC.

“Oke”, kataku agak curiga padanya.
Baru kali ini aku mendengar Adul ingin cepat-cepat turun dari gunung. Terdengar agak aneh. Segera ku buang pikiran penuh tanda tanya agar perjalanan turun kami bisa lancar.
Tenda tampak dekat


Tenda tampak jauh




Beban di pundak sudah lebih ringan dibanding kemarin karena Adul memindahkan beberapa barangku ke tas kerilnya.

“Gak papa mbak, biar kita jalannya lebih cepat.”
Pada kenyataannya kecepatanku turun gunung tetap kalah dengan Adul. Kakiku yang mulai terasa pegal menyebabkan  gerakan langkahku mulai melambat sejak tiba di pos 3.


Jalur pendakian Tambora yang didominasi hutan basah


“Dul, ntar makan siang di pos 2 yak”, kataku mewakili perut yang mulai frustasi.
“Siap, mbak”, jawabnya.
Sampai di pos 2 kami segera memasak mie instant yang tersisa. Nikmat sekali rasanya makan mie saat perut kosong karena pas sarapan aku hanya makan sedikit. (Salahe  sopo, Nduk? Wkwk)


Istirahat di Pos


Sampai di pos 1 kami istirahat sejenak. Adul terus memotivasi ku agar tetap semangat. Tapi, apa daya, dengkulku sudah berontak. Akhirnya dengan perjuangan sisa-sisa tenaga aku sampai di Kampung Bali jam 5 sore. Itu pun kerilku sudah dibawakan Adul selama 30 menit menjelang tempat tujuan.
Kata Adul, “ Gak tega liat wajah mbak Uut udah mengkerut begitu.”

Kecurigaanku terbukti setelah kami sampai di BC pak Syaiful menjelang maghrib. Akhirnya Adul bercerita bahwa sebenarnya dia susah tidur selama di campsite, terutama saat di bibir kaldera. Dia juga merasakan aura lain di beberapa pos di Tambora.
“Oh, begitu tah? Pantesan...”, kataku terkejut mendengar penuturannya.

Perjalanan sarat makna dari Tambora. Puji syukur kepada Alloh SWT Sang Pemberi Kehidupan, dengan KuasaNYA kami bisa selamat kembali kerumah masing-masing setelah mengalami hal yang di luar prediksi. Terima kasih semesta, engkau mengajari ku banyak hal. Bahwa kita hanyalah butiran debu di alam raya yang sangat luas. Boleh jadi kita sanggup melangkahkan kaki sampai di tanah tertinggi, lalu sanggupkah kita meletakkan hati di titik terendah? Semangat belajar, Nduk!




NOTED:

Durasi pendakian kami (2 orang, terhitung dengan waktu istirahat, masak, makan, dll) sebagai berikut:

Ojek BC – Pintu Rimba = 40menit (naik lewat jalur baru, Dompu)

Pintu Rimba – Pos 1 = 3,5 jam (nyasar)

Pos 1 – Pos 2 = 1 jam 45 menit

Pos 2 – Pos 3 = 2 jam

Pos 3 – Pos 4 = 1 jam

Pos 4 – Pos 5 = 1 jam

Pos 5  – Bibir kaldera = 2,5 jam

Bibir kaldera – puncak = 15 menit

Bibir kaldera – kampung bali = 8 jam (turun lewat jalur Portal, Bima)


Sebenarnya dari BC Pancasila ada 2 jalur menuju Pos 1 yaitu lewat jalur baru (wilayah Dompu) yang lebih jauh,seperti arahan pak saiful pada kami dan jalur portal/jalur lama (wilayah Bima) yang lebih dekat. Info tersebut kami ketahui setelah kami menyelesaikan pendakian.


Jumat, 21 Juli 2017

Pendakian Gn.Merapi 2930 mdpl


Plang Merapi 2930 mdpl

Gunung Merapi termasuk gunung berapi yang masih aktif di Pulau Jawa. Gunung ini terakhir meletus pada tahun 2010 yang juga menewaskan sang Juru Kunci, Mbah Maridjan. Sebelum letusan tahun 2010, Merapi terkenal dengan Puncak Garuda. Akibat letusan itu puncak Garuda telah hilang. Yang tersisa sekarang adalah sebuah batu yang menjulang tinggi dan seorang pendaki asal Jogja (Alm. Eri Yunanto) tahun 2015 terpeleset dan jatuh ke kawah dari lokasi yang dinamakan Puncak tusuk gigi tersebut.
Aku bergabung dalam pendakian Merapi yang diprakarsai oleh Bang Ponco and the geng. Kebetulan juga dalam rombongan bang Ponco terdapat dua kawan yang pernah mendaki Semeru bersamaku yaitu Irma dan Arum. Anggota dalam pendakian Merapi ini yaitu Bang Ponco, Bang Bibir, Bang Kampleng, Ike, Bang Metthew, Arum, Irma, adiknya Irma dan aku. Mereka bersembilan pada hari Sabtu pagi telah mendaki Andong tanpa ngecamp alias tektok.


Sabtu-Ahad, 15-16 April 2017

Aku sudah mengabari bang Ponco bahwa aku akan menunggu di pertigaan Keteb. Bang Ponco, dkk berangkat menuju Keteb dari BC Andong, sedangkan aku berangkat dari rumah di Nanggulan naik motor. Aku bersama adek otw sehabis sholat Ashar. Ternyata mereka yang duluan sampai di Keteb dan harus menungguku. Aku terjebak macet saat hampir sampai di Pertigaan Keteb. Aku bertemu dengan rekan-rekan di pertigaan Keteb yaitu jam 17.10 WIB. Mobil yang disewa rombongan Tangerang+Sukabumi sudah berisikan 9 orang plus driver. Awalnya agak gak enak juga mau ikut mobil mereka, karena nanti di mobil semakin berdesakan oleh manusia. Tapi agar efektif akhirnya aku masuk dan ikut mobil sampai di basecamp. Jam 17.30 WIB setelah packing ulang tas keril di mobil, akhirnya kami berangkat menuju BC Barameru.

Mepo di pertigaan Keteb

Hari sudah malam saat kami mampir membeli logistik di sebuah toko dekat BC. Jam 19.00 WIB kami tiba di BC Barameru dan salah satu rekan mendatangi pos registrasi dan mengurus simaksi pendakian kami. Simaksi saat weekend sebesar Rp 18.500,- untuk pendakian 2 hari 1 malam per orang. Basecamp Barameru terletak di Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Dari BC kami harus berjalan kaki melewati aspal yang menanjak untuk sampai di NEWSELO. Di sana terdapat beberapa mobil yang parkir untuk mengantar pendaki yang naik Merapi. Warung-warung berjajar menghadap ke arah Merbabu, yang jika cuaca cerah maka akan tampak pemandangan yang indah gunung Merbabu. Sebelum mendaki kami makan malam di salah satu warung. Kami juga menitipkan baju bersih yang tidak terpakai saat di Merapi kepada ibu pemilik warung tsb. Perut telah diisi dan kami siap untuk start ngetrek. Kami mulai berjalan meninggalkan warung jam 20.00 WIB.
Jalan paving(cor-semen) mengawali perjalanan malam kami. Etape dari Newselo ke gerbang pendakian Merapi didominasi ladang penduduk di sebelah kanan dengan track yang cukup menanjak sebagai starting point. Aku yang menjadikan pendakian kali ini sebagai ajang pemanasan sebelum berangkat ke Rinjani, telah berkeyakinan dalam hati bahwa tidak akan jalan santai seperti keong. Saat menjumpai jalan setapak yang mulai bertambah kemiringannya dibanding jalan paving ternyata nafasku sudah tersengal-sengal. Jalanku mulai melambat hingga sampai di Gerbang Pendakian. Kami semua break agak lama di sana. Hawa kantuk mulai menyerang. Tubuhpun mulai kedinginan karena terlalu lama berdiam diri. Akhirnya salah satu rekan berkata “Yuk, lanjut lagi, udah dingin.”
Kami segera berjalan kembali menuju pos 1. Trek tetap menanjak tanpa bonus. Aku yang merasa sudah lemas, segera memakan coki-coki yang telah kusiapkan di kantong kerilku. Perjalanan di malam hari membuat paru-paru bekerja lebih ekstra karena oksigen yang kita hirup lebih sedikit. Walau begitu, perjalanan malam membuat kita fokus untuk sampai tujuan karena sekitar kita gelap dan jarang bisa mengeksplorasi pemandangan  alam. Baterai handphone menjadi awet.
Di perjalanan menuju pos 1, kami bertemu percabangan jalur dan kami dengan santainya ambil jalur sebelah kanan. Jam 22.30 WIB kami sampai di pos 1 dan istirahat di shelter sembari menunggu teman yang masih di belakang kami. Malam itu banyak pendaki yang naik Merapi. Tak dapat dipungkiri bahwa mendaki saat longweekend pasti akan menjumpai antrian di trek. Saat melihat ada pendaki yang muncul dari arah bawah-samping batu besar yang dekat dengan pos 1 barulah kusadari sesuatu. Dulu, saat mendaki Merapi pertama kali di tahun 2013 aku melewati jalur yang sama dengan pendaki tersebut. Jalur ke arah kanan akan membawa kita menuju pos 1 dalam waktu yang relatif singkat tetapi medan yang lebih terjal dan cukup menyiksa. Sedangkan jalur ke arah kiri juga didominasi tanjakan terjal dengan beberapa titik berupa tanah landai yang agak memutar. Tahun 2013 aku dan rombongan mengambil jalur kiri sedangkan saat aku bersama bang Ponco and the geng, kami memilih jalur sebelah kanan. Beberapa saat kemudian rekan kami sudah sampai.
“Gue udah gak kuat kalo harus lanjut ke pos 2. Kita ngecamp sini aja “ ujar salah satu rekan
Berdasarkan mufakat, maka kami sepakat ngecamp di Pos 1 karena ada teman yang kelelahan akibat paginya tektok Andong. Di area pos 1 terdapat lapak yang bisa menampung 2 buah tenda. Karena kondisi rekan sudah letih dan ngantuk kami hanya mendirikan 1 buah tenda saja. Jam 23.30 WIB kami segera beristirahat. Yang tidur di dalam tenda adalah 4 orang cewek dan 1 cowok. Sedangkan 3 cowok lainnya tidur di teras tenda dan di luar tenda.
“Ada SB gak?” tanya bang Ponco yang akan tidur di luar.
“Bang Ponco gak ada SB?”
“Gak ada, mbak. Punya saya dipakai Ike.”
“Yaudah, nih pakai aja. Ntar aku barengan sama Arum” kataku. Malam itu Ike terbangun karena mengeluh ngilu. Segera kami berikan minyak kayu putih padanya. Arum dan Bang Mett dengan cepat merespon keluhan Ike dan merawatnya.
Subuh kami bangun, sholat dan mulai memasak air panas. Tiga orang cewek keluar tenda dan membangunkan rekan yang tidur di luar dan segera menyuruh mereka masuk ke tenda.
“Bang....masuk tenda gih..!Gantian... Kami mau masak,” kataku.
Aku, Arum, dan Irma bagi tugas untuk memasak. Aku memasak nasi, Irma meracik untuk sayur sop dan Arum meracik untuk tempe tepung-goreng.
Tak berapa lama bang Metthew muncul dan membantu kami memasak. Membantu dan bikin rusuh itu beda tipis.hahaha.

Gunung Sumbing, Sindoro tampak dari pos 1

Pos 1, lapak tenda kami


Sarapan telah siap. Kami membangunkan Ike, Bang Ponco, Bang Kampleng dan bang Bibir. Ike segera kami suguhi minuman hangat.
“Minum dulu, Ike, biar badannya enak.”
Setelah selesai sarapan, kami packing untuk summit attack. Bang Mett yang sebelumnya sudah pernah muncak ke Merapi memutuskan tidak ikut bersama kami.
“Gue gak ikut ya. Udah pernah sih. Gue jaga tenda aja.”
“Yakin bang Mett, gak ikut? Kalo gitu ntar kita turun summit udah ada makan siang dong ya...” balas kami.
“ Iya deh, diusahakan, kalo bisa gue masakin, kalo gak ya udah, gue gak masak.” jawabnya pasrah.
Jam 8 pagi kami mulai start summit attack. Untuk mencapai puncak tentu dibutuhkan waktu yang lebih lama karena titik awal kami adalah pos 1. Aku sampai di Pasar Bubrah jam 10.30 WIB
Dari sekian etape menuju puncak Merapi, pos 1 ke pos 2 merupakan salah satu etape yang berat. Medan yang harus kami lalui berupa trek terjal bebatuan. Sepanjang jalur menuju pos 2 kaki dipaksa melangkah melewati batu cadas. Pemandangan Merbabu nan gagah di sebelah kanan membuat Aku, Arum dan Irma sering berhenti untuk mengabadikan moment. Saat mereka sibuk berfoto aku lantas mengatur nafasku yang sudah engap. Pagi yang cerah dengan pundak yang santai tanpa beban membuat kami berjalan dengan cepat. Saat bebatuan mulai habis itu berarti Pos 2 semakin dekat. Pos 2 merupakan salah satu spot mendirikan tenda. Tanah lumayan datar dan luas, serta masih terdapat vegetasi untuk berlindung dari terpaan angin.

View Merbabu dari atas pos 1


Medan Menuju Pos 2



Bebatuan semua


Menjelang pos 2 tampak puncak Merapi sangat dekat


Sampai di pos 2 kami beristirahat sambil menunggu rekan yang masih di belakang. Duduk menikmati semilir angin sembari ngobrol dengan 2 orang pendaki asal Bekasi membuat kami tertawa terbahak-bahak. Mereka membuat teh untuk diminum bersama-sama. Satu gelas telah siap dan ditawarkan kepada kami semua.
“Ayo, bang,,, mbak,,, silakan diminum tehnya.”
Irma, Arum, Bang Bibir secara bergantian meminum teh tersebut.
“Mbak uut, nih...” kata Irma menyodorkan gelas itu padaku
“Enggak deh, Mut...” kataku. Entah kenapa saat itu aku tidak mau minum teh tersebut. Padahal Aku termasuk penyuka minum teh di ketinggian. Wkwkwkwk.
Gelas itu pun segera kembali ke tangan empunya. Lantas dia minum dan berkomentar.
“Kog rasanya ada yang kurang ya?” pikirnya
Kami semua terkejut dan penasaran. “Emang kenapa Bang? Enak kog.”
Tiba-tiba pendaki asal Bekasi yang satu lagi nyeletuk,  “Duh,,,gue lupa. Tadi tehnya belum di kasi gula.”
Temannya terkejut dan berkata, “Wah,,lu gimana sih...Tanggungjawab!”
“Yaudah sih,,,bikinin yang baru,,,pake gula tapi jangan lupa.”
Sontak kami semua tergelak menyadari bahwa walaupun teh tanpa gula, tetapi tetap terasa nikmat.
“Kalian gak nyadar apa, itu gak manis?” tanyaku
“Enggak mbak,,,enak sih. Apa karena lagi haus ya,,sampe gak nyadar gitu.” jawab mereka.
Teh yang benar pun kemudian Aku yang pertama mencicipi. “Ini baru teh manis. Ha....”
Setelah berbincang cukup lama dan tidak nyaman melihat sebelahku duduk memasak mie instant, aku bertanya pada Bang Bibir, “Gimana kalo kita nunggu mereka sambil jalan lagi?”
“Mau jalan nih? Hayuk lah...” jawabnya.
“Bang duluan ya,,” Kami pun berpamitan dengan pendaki asal pendaki dan juga pendaki yang sedang memasak mie.
 Sampai di watu gajah kami berhenti sejenak untuk beristirahat. Di area watu gajah banyak monyet berkeliaran. Beberapa terlihat mendekati tenda untuk mencari sisa makanan dari pendaki. Ada juga monyet yang sedang bergelantungan di pohon.
“Bang Ponco, Ike, Bang Kampleng belum kelihatan nih... mau lanjut?”
“Lanjut aja, kita tunggu di Pasar Bubrah”
Kami pun segera menuju titik terakhir sebelum puncak Merapi. Meninggalkan Watu gajah kami merasakan hawa panas kian menyengat. Jam 10 pagi kala itu dan matahari tengah membagikan sinarnya pada penduduk bumi. Pasar Bubrah cukup ramai. Pasar bubrah di Merapi ibarat alun-alun karena area tersebut berupa tanah datar tanpa vegetasi yang dipenuhi oleh bongkahan batu-batu material vulkanik berbagai ukuran. Ada yang jumbo, ukuran sedang dan ukuran kecil layaknya kerikil. Beberapa tenda tampak dibangun dekat dengan batu yang sangat besar di area itu. Kami semua duduk beristirahat dan menikmati suasana Pasar Bubrah. Banyak pendaki yang berfoto bersama di papan penanda yang bertuliskan “Pasar Bubrah”. Tak terkecuali kami semua. Selesai berfoto ria di sana, akhirnya sampai juga Ike, Bang Ponco dan Bang Kampleng di Pasar Bubrah. Walaupun panas kian menyengat kami tetap semangat untuk antri foto bersama fullteam (tanpa bang Mett). Kabut yang datang menutup Puncak Merapi kala itu membuat kami sempat was-was. Setelah yakin di puncak akan cerah maka kami semua memantapkan hati untuk menggapai Puncak Merapi.

Fokusnya berantakan

Pasar Bubrah (fullteam)

Bareng gadis Sukabumi

Belakang kami udah Puncak Merapi



Jam 11.30 WIB kami semua berjalan beriringan menuju Puncak Merapi. Sampai di papan peringatan “STOP!! Berhenti di Sini. Batas Aman Pendakian” aku berhenti sejenak dan berdoa agar kami serombongan selamat sampai turun kembali ke BC. Sebenarnya pihak pengelola sudah memberikan rambu-rambu yang seharusnya dipatuhi oleh para pendaki bahwa pendakian Merapi hanya sampai di Pasar Bubrah. Tapi apalah daya, karena pengaruh ego yang kuat dari kami, peringatan tersebut seolah tidak terlihat. “Udah jauh-jauh sampai sini, masak gak muncak?Yang penting tetap keep safety dan cuaca mendukung” begitulah salah satu kalimat pembenaran dari kami.
Jalur melipir ke kiri dulu baru naik

Puncak tertutup kabut

Medan pasir saat melipir

Tampak Pasar Bubrah jika difoto dari atas


Mulai dari titik ini terlihat jejak kaki para pendaki yang berjalan melipir ke arah kiri naik lalu belok kanan dan mulai lurus naik untuk mencapai bibir kawah Merapi. Berjalan pada medan berpasir yang penuh kerikil cukup menyulitkanku. Trek pasir halus itu menyebabkan langkah kakiku terasa berat. Beberapa kali tubuhku oleng karena tangan tak mempunyai pegangan. Perlahan tapi pasti akhirnya kami bisa melalui trek pasir dan selanjutnya telah membentang bebatuan yang cukup rapuh yang bisa menggelinding kalau kita salah ambil pijakan.

Mendekati puncak Merapi

Setapak demi setapak dengan sangat berhati-hati aku memilih batu tempat berpijak. Sambil terus berdoa, aku ajak tanganku bekerja sama untuk menopang keseimbangan tubuh saat di track. Arum terlihat sangat gesit mengejar Puncak Merapi. Aku sesekali menengok ke belakang dan terlihat beberapa pendaki yang tengah berjuang sepertiku. Jalur bebatuan yang aku pilih ternyata terlalu ke kiri dan tak kusadari hal itu sangat berbahaya. Aku hanya mengikuti 2 orang pendaki yang berada di jalur tersebut. Saat mendekati puncak kulihat dua pendaki itu merayap di tanah. Aku mengumpat dalam hati saat aku merasakan jalur itu langsung. “Arrghhh...susah sekali ini” kataku. Saat itu aku melihat Arum sudah melambai-lambai ke arahku.
“Mbak ut,  jangan lewat situ. Berbahaya. Lewat situ aja,” katanya sambil menunjuk ke arah sisi kananku yang notabene cukup jauh.
“Susah, Arum,,,gimana ini?” ujarku panik. Padahal bibir kawah tinggal 8 meter dari posisiku saat itu. Aku masih berusaha merayap saat kakiku malah terpeleset. Terlihat bang Bibir sudah sampai di dekat Arum.
“Bang Bibir,,itu mbak Ut gimana?” berusaha mencari solusi untukku.
“Bang,,aku serius ini,,gak lagi becanda.” teriakku pada Bang Bibir.
“Iya, Mbak...saya juga serius, kalo gak serius mana ada saya tolongin.” Katanya sembari mendekat ke arahku. Dengan bantuan Bang Bibir aku berhasil sampai di bibir kawah.
“Makasih, bang.” Kataku penuh malu.
Aku pun segera mengucap rasa syukur kepada Sang Pencipta. Duh, rasanya tadi itu pokoknya gak karuan. Etape Pasar Bubrah menuju bibir kawah merupakan rute berat yang kala itu membuat jantungku berdetak tak karuan akibat salah pilih jalur.

Puncak Tusuk Gigi (yang belakang jauh?)

Dasar Kawah Merapi

Still waiting you,,,, kata doi. wkwkwk

Saat aku berdiri di bibir kawah bau belerang dari arah kawah sangat menyengat. Pada musim hujan memang muncul asap belerang yang lebih banyak dibanding musim kemarau. Jangan lupa siapkan masker ataupun buff untuk meminimalisir masuknya gas belerang ke paru-paru kita. Kulihat waktu menunjukkan jam 12.30 WIB saat kami tiba di bibir kawah Merapi. Saat aku melihat ke bawah, dasar kawah Merapi tidak terlihat. Hal itu karena banyaknya asap yang keluar dari kawah sehingga membatasi pandangan mataku. Berbeda saat dulu aku mencapai titik ini pada bulan November 2013. Dasar dari kawah Merapi sangat terlihat jelas oleh mata telanjang. Cukup lama kami berada di area bibir kawah Merapi. Sembari menunggu Ike yang dikawal oleh bang kampleng menuju puncak, kami menghabiskan waktu untuk foto selfie. Segera setelah Ike dan bang Kampleng sampai, kami berfoto bersama di area puncak Merapi.
Fullteam,,Yeayy...

Kawahnya tertutup asap


Terima kasih gengs,,, 

Sekitar jam 2 siang kami segera turun menuju area camp karena takut kesorean. Turun menuju Pasar Bubrah sudah membuat kepalaku pening. Pening karena kepanasan. Kurasakan pipiku sudah mulai terbakar terik matahari. Seharusnya sebelum terpapar sinar matahari, area kulit yang terbuka diolesi sunblock terlebih dahulu. Aku dengan sangat fokus memilih batu pijakan yang kuat agar tidak terpeleset. Sampai di area pasir aku setengah berlari turun mengejar rekan yang sudah sampai di bawah. Menuruni trek pasir lebih mudah dari pada naik di trek pasir. Di area pasar bubrah aku sempat berhenti untuk foto berlatar Puncak Merapi yang terlihat begitu jelas tanpa terhalang kabut.

Terima kasih Merapi, kau tak pernah ingkar janji.. see you next time...

Saat aku berjalan bersama Imut sedangkan teman-teman bergegas menuju area camp, kami kehabisan air minum. Terpaksa kami berdua makan madu, maksudnya agar tenggorokan tidak begitu kering akibat kurangnya pasokan air ke dalam tubuh. Sepanjang trek aku dan Imut tertawa terpingkal-pingkal mengingat semua moment yang pernah kami lalui bersama. Moment di beberapa pendakian terakhir kami. Baru di Merapi ini aku bisa lepas tertawa di track bersama rekan pendakian. Biasanya lebih banyak diam karena saking lelahnya. Mungkin karena sama-sama cewek dan berdua saja, jadi kalau menggosipkan sesuatu pasti sinyal kami tersambung dengan lancar dan cepat bagaikan sinyal 4G. Sekitar jam 4 sore aku dan Imut menjadi orang terakhir yang sampai di Pos 1. Kami beristirahat sebentar dan berbincang dengan bang Mett. Ternyata dia sudah menyiapkan makan untuk kami semua. Ada puding, lauk, nasi sisa semalam, yang kurang hanya sayur saja. Katanya dia tidak bisa masak sayur asem. Padahal kami sudah meracik bahan sayur asem, tinggal dimasak saja. Karena hari semakin sore, kami makan apa adanya saja. Lauk kering tempe menjadi menu utama kami. Beberapa rekan ternyata masih lapar sehingga kami memasak mie instant dan bihun sebelum bongkar tenda. Kami makan bersama di gazebo pos 2. Semburat langit orange muncul di ufuk barat. Indah sekali sunset di pos 2.
Warna Senja di Merapi


Makan Bersama di Pos 2

Saat kami packing hari mulai beranjak malam. Kami mulai otw turun menuju NewSelo jam 18.30 WIB. Sayangnya saat perjalanan malam hari, headlamp kami ada yang mati. Mau tidak mau kami harus berjalan beriringan dan rapat karena tidak semua anggota memakai headlamp. Beberapa dari kami terpeleset di jalur karena hari sudah malam, fokus mulai berkurang drastis. Bisa jadi karena perut sudah mulai lapar lagi. Perjalanan terasa jauh. Kami harus bekerja sama saling menyinari agar rekan yang tidak memakai headlamp dapat melangkah dengan benar. Sampai di jalur paving kami mulai agak terpencar. Kami mendapat bantuan cahaya dari rembulan sehingga beberapa yang sudah lelah berjalan agak cepat. Saat kami tiba di warung ternyata warung yang kami titipi baju sudah tutup. Dengan dibantu pemilik warung sebelah, tak berapa lama kemudian, datang seorang pemuda yang membawa kunci dan membukakan warung tsb untuk kami. Arum segera mengambil kantong baju kami bersama. Dia juga berusaha membangunkan bang Bibir dan memberitahunya agar mengambil baju yang dia titipkan juga. Tetap saja bang Bibir tak beranjak dari bangku panjang tempat dia tidur.
Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Saat kami semua tiba di Temanggung, rumah salah satu karib-nya Bang Ponco and the geng, barulah diketahui bahwa ada baju yang tertinggal di warung Newselo. Baju bersih kepunyaan bang Bibir tertinggal di sana. Ada miskomunikasi di antara kami sehingga titipan bang Bibir terabaikan. Setelah sedikit berdebat akhirnya Bang Bibir sudah pasrah akan kejadian tsb. Akhirnya aku tidur jam 03.30 WIB setelah sempat ngrumpi asik bersama Irma.

"Aku senang berkumpul dengan orang-orang yang patah hati. Mereka tak banyak bicara. Mereka jujur dan berbahaya.Mereka pun tahu apa yang mereka cari. Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri" (M.Aan Mansyur dengan sedikit gubahan).


Gegara beginian jadilah ketinggalan kereta ke Jakarta. Hiks....


...................to be continued...................... 

“Keseruan Main Air di Curug Hingga Harus Ketinggalan Kereta”     ^_*